Wawancara Novel Baswedan: Doa Subuh Hari ini dan Rencana 57 Eks Pegawai KPK

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Novel Baswedan berbicara saat menghadiri peluncuran buku Nusantara Berkisah 2: Orang-orang Sakti karya S. Dian Andryanto di Gedung Tempo, Jakarta, 14 Desember 2019. TEMPO/Fardi Bestari

    Novel Baswedan berbicara saat menghadiri peluncuran buku Nusantara Berkisah 2: Orang-orang Sakti karya S. Dian Andryanto di Gedung Tempo, Jakarta, 14 Desember 2019. TEMPO/Fardi Bestari

    TEMPO.CO, Jakarta - 30 September kemarin, menjadi hari terakhir Novel Baswedan dan 57 pegawai KPK yang diberhentikan karena alih status menjadi ASN melalui tes wawasan kebangsaan (TWK) yang masih dipertanyakan publik.

    Kemarin, sebanyak 57 pegawai KPK tersebut melakukan jalan bersama seusai dipecat dari komisi antirasuah. Novel Baswedan dan kawan-kawan berjalan kaki sejauh 750 meter dari Gedung Merah Putih KPK ke Gedung Anti-Corruption Learning Center atau KPK lama.

    Mereka keluar dari Gedung Merah Putih KPK sekitar pukul 13.30, seusai mengembalikan barang kantor. Lalu mereka berfoto bersama sembari menaruh kartu identitasnya ke tanah di depan gedung KPK. Beberapa mantan komisioner KPK seperti Saut Situmorang, Bambang Widjojanto, Busyiro Muqoddas dan Abraham Samad serta pegiat antikorupsi lain menyambut mereka.

    Sehari telah berlalu, apa yang kemudian akan dilakukan Novel baswedan dkk? Berikut penuturan mantan penyidik senior KPK dan peraih penghargaan Satyalancana Dharma Nusa, Satyalancana Kesatria Tamtama dan beberapa penghargaan lainnya inikepada tempo.co:

    Apa yang dilakukan setelah keluar dari KPK kemarin?
    Setelah keluar dari KPK, saya tetap konsolidasi dengan kawan-kawan agar bisa solid untuk menjaga semangat perjuangan antikorupsi.

    Perasaan apa yang paling mendalam keluar dari pintu KPK kemarin?
    Sedih, karena hak untuk berjuang antikorupsi telah dibajak. Dibajak untuk membuat KPK lemah dan pemberantasan korupsi mati.

    Sedih karena saya tidak bisa apa-apa, dan pemerintah diam yang membuat wibawa hukum jatuh. Padahal Ombudsman dan Komnas HAM telah menemukan bukti yang jelas dan kuat tentang perbuatan sewenang-wenang dan melawan hukum yang dilakukan oleh Pimpinan KPK.

    Apa rencana yang akan dilakukan hari ini?
    Saya belum ada rencana, sekarang saya istirahat untuk selanjutnya mengatur konsolidasi lebih lanjut dengan kawan-kawan.

    Apakah rencana Anda dan kawan-kawan selanjutnya?
    Kami tetap berupaya dan mendesak agar pemerintah memulihkan dampak dengan menjalankan rekomendasi Ombudsman RI dan Komnas HAM.

    Yaitu memberi hukuman kepada Pimpinan KPK dan pejabat terkait karena telah melakukan serangkaian manipulasi dan perbuatan ilegal lainnya, agar tidak menjadi preseden buruk bagi upaya pemberantasan korupsi. Juga atas kerusakan yang ditimbulkan pada tata kelola kepegawaian KPK dan mengangkat kembali pegawai KPK yang disingkirkan.

    Bagaimana keluarga  menanggapi keadaan ini?
    Keluarga saya menyerahkan pilihan kepada saya sepenuhnya, yang jelas kecewa dengan sikap pemerintah yang membiarkan Pimpinan KPK dkk yang terangan2 berani melanggar segala kaidah hukum.

    Keluarga saya juga mendukung bila saya mengambil jalan diluar pemerintahan, karena sikap pemerintah yang tidak mendukung upaya pemberantasan korupsi.

    Apa doa Anda usai salat subuh hari ini?
    Saya berdoa, semoga Allah merahmati dan meridhoi perjuangan kami.

    Baca: Novel Baswedan Ingat Masa Kanak-kanak di Kampung Sumur Umbul Semarang


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pentingnya Air Putih Setelah Anda Makan

    Makan tentu tak nikmat bila tidak minum air putih setelahnya. Selain nikmat, air putih juga memiliki khasiat yang baik bagi kesehatan tubuh.

    Dapatkan 2 artikel premium gratis
    di Koran dan Majalah Tempo
    hanya dengan Register TempoID

    Daftar Sekarang (Gratis)