Deteksi Covid-19 Saat PTM: Tes Acak hingga Sekolah Ditutup Jika Kasus 5 Persen

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Badut dari Komunitas Aku Badut Indonesia (ABI) membawa poster saat melakukan edukasi tentang protokol kesehatan pada siswa di SDN 03 Citayam, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin, 6 September 2021. Aku Badut Indonesia (ABI) melakukan aksi kampanye edukasi tentang protokol kesehatan dengan menyanyikan lagu 3 M, membagikan masker dan mengingatkan protokol kesehatan selama Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Sekolah. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Badut dari Komunitas Aku Badut Indonesia (ABI) membawa poster saat melakukan edukasi tentang protokol kesehatan pada siswa di SDN 03 Citayam, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin, 6 September 2021. Aku Badut Indonesia (ABI) melakukan aksi kampanye edukasi tentang protokol kesehatan dengan menyanyikan lagu 3 M, membagikan masker dan mengingatkan protokol kesehatan selama Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Sekolah. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pemerintah sudah menyiapkan strategi surveilans atau deteksi Covid-19 untuk mencegah terjadinya penularan Covid-19 selama pembelajaran tatap muka (PTM).

    Sejauh ini, ujar dia, uji coba sudah dilakukan di empat daerah, yakni; DKI Jakarta, Kota Semarang, Kota Surakarta, dan Kota Pekalongan. Uji coba menunjukkan hasil beragam. Untuk DKI Jakarta misalnya, dari 22 sekolah yang diuji, 8 sekolah yang diambil sampelnya, tidak ditemukan ada kasus positif Covid-19.

    "Sisanya, ada yang positif Covid-19, tapi angkanya kecil-kecil. Jadi kalau angkanya kecil, bukan klaster. Klaster itu kita definisikan kalau penyebaran Covid-19 terjadi meluas di sekolah," ujar Budi.

    Dari 22 sekolah tersebut, total sebanyak 66 orang dari 2.271 sampel ditemukan positif Covid-19, dan 158 sampel masih menunggu hasil. Kasus paling banyak ditemukan di SMP PGRI 20 Duren Sawit. Dari 266 sampel yang diperiksa, sebanyak 21 sampel positif Covid-19. "Nah itu kemungkinan besar klaster, tapi klaster ini jumlahnya sedikit," ujarnya.

    Namun, ujar Budi Gunadi, kondisi ini tidak lantas membuat sekolah tatap muka menjadi menakutkan. Menurutnya, pemerintah sudah menyiapkan strategi penanganan yang baik. Lantas apa strateginya?

    Pertama, pemerintah akan melakukan pelacakan dan testing dengan metode active case finding atau menjemput bola. Caranya, pemerintah akan mengidentikasi jumlah sekolah di tingkat kabupaten/kota yang melaksanakan PTM. Selanjutnya, Kemenkes akan melakukan random sampling dengan mengambil sampel 10 persen dari total sekolah yang melaksanakan PTM.

    Dari 10 persen tersebut, akan dibagi alokasinya berdasarkan kecamatan. Kecamantan yang sekolahnya lebih banyak, otomatis sampel yang diambil akan lebih banyak. "Terus, kami ambil 30 siswa dan 30 pengajar per sekolah itu, semuanya di swab PCR dengan metode full testing. Jadi kami ambil beberapa tesnya sekali jalan," ujar Budi.

    Semua biaya swab PCR ditanggung pemerintah. Dari perhitungan Kemenkes, untuk kebutuhan testing lebih dari 520 ribu sekolah, sudah disiapkan biaya test PCR per bulan sebesar Rp 515,5 miliar.

    "Kami akan lakukan testing sekitar 1,7 juta sampel per bulan atau sekitar 30 ribu per hari," ujarnya.

    Selanjutnya, sebagai tindak lanjut dari hasil testing tersebut, jika positivity rate sekolah tersebut di bawah 1 persen, maka akan dilakukan pelacakan kontak erat, sementara PTM tetap berjalan.

    Jika, positivity rate sekolah 1-5 persen, juga serupa, PTM tetap berjalan. "Kalau di atas 5 persen, nah kami tutup seluruh sekolah, karena ada kemungkinan menyebar. Sekolahnya kami ubah dulu menjadi online selama 14 hari sambil kami lakukan evaluasi. Setelah bersih, boleh sekolah lagi," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rapor 2 Tahun Jokowi - Ma'ruf Amin, Beda Lembaga Beda Pula Hasilnya

    Pada 20 Oktober 2021, masa kerja Jokowi - Ma'ruf Amin tepat 2 tahun. Ada sejumlah lembaga mencatat ketidaksesuaian realisasi dengan janji kampanye.