Tantangan Atasi Covid-19 di Papua, Ada yang Percaya Penyakit dari Roh Jahat

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas medis Puskesmas Agats melakukan pemeriksaan kesehatan warga yang akan menerima suntikan vaksin COVID-19 di Ewer, Asmat, Papua, Jumat 2 Juli 2021. Pemerintah Kabupaten Asmat gencar melaksanakan vaksinasi COVID-19 untuk masyarakat termasuk jemput bola dengan mengerahkan tenaga kesehatan ke kampung-kampung. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

    Petugas medis Puskesmas Agats melakukan pemeriksaan kesehatan warga yang akan menerima suntikan vaksin COVID-19 di Ewer, Asmat, Papua, Jumat 2 Juli 2021. Pemerintah Kabupaten Asmat gencar melaksanakan vaksinasi COVID-19 untuk masyarakat termasuk jemput bola dengan mengerahkan tenaga kesehatan ke kampung-kampung. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Papua, Hasmi, mengungkapkan sejumlah tantangan yang dihadapi dalam penanganan Covid-19 di Papua dari berbagai aspek. Salah satu aspeknya adalah budaya.

    “Masyarakat masih banyak yang percaya bahwa penyakit berasal dari roh jahat,” kata Hasmi dalam diskusi daring, Jumat, 24 September 2021.

    Hasmi mengatakan, kepercayaan tersebut membuat masyarakat Papua banyak yang sulit menerima adanya Covid-19, dan menyebar melalui pernapasan. Hal tersebut juga berakibat keengganan mereka melaksanakan protokol kesehatan dan vaksinasi.

    Tantangan berikutnya adalah banyaknya tokoh agama dan masyarakat yang termakan hoaks. Hasmi mengungkapkan, ada 23 gereja yang bersatu menyatakan ketidakpercayaan pada Covid-19. Mereka secara simbolis juga membakar masker.

    “Ini kalau sudah tokoh agama yang menolak, hampir pasti banyak pengikut yang tidak mau melaksanakan protokol kesehatan dan menolak adanya vaksin,” ujar dia.

    Kemudian berdasarkan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP), Hasmi mengatakan perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat Papua masih sangat rendah, yaitu mencapai 45 persen. Artinya, sebanyak 55 persen masyarakat masih hidup dengan perilaku tidak sehat.

    Untuk aspek 3T (testing, tracing, treatment), Hasmi menyampaikan bahwa alat PCR di Papua sering kali rusak dan menunggu waktu yang lama untuk diperbaiki. Selain itu, alat TCM juga kadang kehabisan stok catridge untuk mendeteksi Covid-19. Padahal, kedua alat tersebut menjadi indikator dalam menentukan kasus terkonfirmasi.

    Yang paling membuat keadaan makin terpuruk dengan keberadaan Covid-19, menurut Hasmi, adalah jumlah tenaga kesehatan di Papua. Jumlah nakes untuk melakukan tracing dan vaksinasi sangat terbatas. Sehingga, tidak jarang ada nakes yang rangkap tugas.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ramai Tagar #PercumaLaporPolisi

    Kepolisian RI tengah dibanjiri kritik dari masyarakat dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan, hingga ada tagar #PercumaLaporPolisi.