Epidemiolog Ingatkan Libur Panjang Akhir Tahun Berpotensi Tambah Kasus Covid-19

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerj membersihkan fasilitas di kawasan Pantai Melasti, Badung, Bali, Selasa, 14 September 2021. Pemerintah menurunkan PPKM dari PPKM Level 4 menjadi PPKM Level 3 di seluruh wilayah kabupaten/kota di Provinsi Bali selama perpanjangan PPKM hingga 20 September 2021. ANTARA/Fikri Yusuf

    Pekerj membersihkan fasilitas di kawasan Pantai Melasti, Badung, Bali, Selasa, 14 September 2021. Pemerintah menurunkan PPKM dari PPKM Level 4 menjadi PPKM Level 3 di seluruh wilayah kabupaten/kota di Provinsi Bali selama perpanjangan PPKM hingga 20 September 2021. ANTARA/Fikri Yusuf

    TEMPO.CO, Jakarta - Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Iwan Ariawan menilai libur panjang akhir tahun berpotensi meningkatkan kasus Covid-19 jika tak diantisipasi

    "Libur panjang yang disertai peningkatan mobilitas penduduk dan minim protokol kesehatan menjadi risiko tinggi terjadinya lonjakan kasus," kata Iwan, Jumat, 24 September 2021.

    Iwan menyatakan sejumlah hal yang bisa menimbulkan gelombang ketiga Covid-19 ialah peningkatan mobilitas penduduk yang tidak disertai peningkatan protokol kesehatan dan penurunan pelacakan kasus. Selain itu, cakupan vaksinasi melambat (rendah), serta adanya varian baru yang lebih menular.

    Menurut dia, banyak ahli memprediksi Desember hingga Januari terjadi lonjakan kasus Covid-19. Sebab saat itu mobilitas penduduk dan kerumunan diperkirakan meningkat karena liburan akhir tahun. "Masyarakat baru sadar atau menyesal setelah terjadi kenaikan kasus," ujar Iwan.

    Iwan menuturkan gelombang ketiga Covid-19 bisa dicegah menggunakan indikator Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sebagai gabungan indikator transmisi dan kapasitas respons. Ia menyarankan pemerintah agar tidak ragu meningkatkan level PPKM di daerah rawan.

    Iwan menilai potensi gelombang ketiga Covid-19 tetap ada walaupun vaksinasi diperkirakan sudah lebih dari 50 persen sebelum Desember 2021. "Karena tidak ada vaksin yang efektivitasnya 100 persen dan efektivitas vaksin bisa berkurang jika ada varian baru," kata dia.

    Secara terpisah Guru Besar Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Tjandra Yoga Aditama mengatakan kerumunan orang kerap diikuti dengan risiko peningkatan kasus. "Jadi, tinggal apakah libur panjang akhir tahun bisa dikendalikan lebih baik atau tidak," katanya.

    Menurut dia, pemerintah perlu mengingatkan masyarakat tentang potensi kasus Covid-19 yang meningkat setelah libur panjang. Salah satunya seperti yang terjadi di Singapura, kendati vaksinasinya sudah lebih dari 80 persen populasi.

    Baca juga: Satgas Ingatkan Pentingnya Kewaspadaan Mencegah Gelombang Ketiga Covid-19


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia Peringkat Pertama Covid-19 Recovery Index Asia Tenggara: Begini Kondis

    Indonesia berada di peringkat pertama di Asia Tenggara dalam Covid-19 Recovery Index yang dirilis media Jepang. Ada hal yang masih jadi perhatian.