Ali Kalora Tewas, Pengamat Minta Polri-TNI Waspadai Perlawanan Sisa Anggota MIT

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Prajurit TNI AD memburu kelompok MIT, di Desa Lembangtongoa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Selasa, 1 Februari 2020. Jenazah Ali dan Jaka akan dibawa ke Rumah Sakit  Bhayangkara Polda Sulteng untuk diidentifikasi. ANTARA/Eddy Djunaedi

    Prajurit TNI AD memburu kelompok MIT, di Desa Lembangtongoa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Selasa, 1 Februari 2020. Jenazah Ali dan Jaka akan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sulteng untuk diidentifikasi. ANTARA/Eddy Djunaedi

    TEMPO.CO, Jakarta - Co-founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, menilai potensi kelompok teror Mujahidin Indonesia Timur (MIT) masih bisa terus berlanjut, meski pentolannya, Ali Kalora, kini telah tewas. 

    "Belajar dari pengalaman, potensi perlawanan MIT terus berlanjut meskipun pemimpin-pemimpin utamanya sudah dilumpuhkan," ujar Fahmi saat dihubungi pada Senin, 20 September 2021. Sehingga, apakah MIT akan mengendur atau tidak setelah Ali Kalora tiada, bergantung kepada aparat keamanan. 

    Satgas Madago Raya menembak mati Ali Kalora dan satu anggota bernama Jaka Ramadhan. Alhasil, kelompok MIT saat ini tersisa empat orang. Mereka adalah Askar alias Jaid alias Pak Guru, Nae alias Galuh alias Mukhlas, Suhardin alias Hasan Pranata, Ahmad Gazali alias Ahmad Panjang 

    Fahmi mengimbau Polri-TNI untuk segera menutup peluang sisa anggota MIT berkonsolidasi. "Meski suplai logistik dan sumber daya terhambat, tapi nyatanya mereka masih bisa survive. Apalagi mereka juga lebih menguasai medan, berhasil dalam mengembangkan taktik insurgensinya dan mampu berbaur sewaktu-waktu di tengah masyarakat," kata dia. 

    Apalagi selama ini, terus berkurangnya personel tak membuat MIT menyerah. "Maka perburuan harus segera dituntaskan, sebelum anggota MIT kembali berkonsolidasi memperkuat kelompok dan membangun kembali simpul-simpul yang kocar-kacir," ucap Fahmi. 

    Menurut Fahmi, hal itu penting lantaran jika aparat keamanan tampak kendur, maka akan memberi ruang dan waktu bagi MIT untuk semacam hibernasi dan muncul kembali dengan pemimpin baru yang bisa saja lebih kuat. 

    "Jangan sampai masyarakat merasa bahwa kehadiran Polri - TNI dan tewasnya Ali Kalora, ternyata tidak serta merta menghadirkan rasa aman di tengah masyarakat," kata Fahmi. 

    ANDITA RAHMA

    Baca: Ali Kalora Tewas, Kapolda Sulteng Sebut Tak Ada Pengganti Pemimpin MIT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ramai Tagar #PercumaLaporPolisi

    Kepolisian RI tengah dibanjiri kritik dari masyarakat dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan, hingga ada tagar #PercumaLaporPolisi.