Temukan Pelanggaran Prokes saat PTM Terbatas, P2G Minta Vaksinasi Anak Wajib

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Guru mengajar muridnya di ruang kelas di SMK Negeri 7 Surabaya, Jawa Timur, Senin, 30 Agustus 2021. Pemprov Jawa Timur memulai pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas di 2.536 SMA/SMK dan SLB di 20 kabupaten/kota di Jawa Timur yang telah menerapkan PPKM Level 2 dan 3, sedangkan di wilayah PPKM level 4 kegiatan PTM secara terbatas belum digelar. ANTARA/Didik Suhartono

    Guru mengajar muridnya di ruang kelas di SMK Negeri 7 Surabaya, Jawa Timur, Senin, 30 Agustus 2021. Pemprov Jawa Timur memulai pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas di 2.536 SMA/SMK dan SLB di 20 kabupaten/kota di Jawa Timur yang telah menerapkan PPKM Level 2 dan 3, sedangkan di wilayah PPKM level 4 kegiatan PTM secara terbatas belum digelar. ANTARA/Didik Suhartono

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Bidang Advokasi Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Iman Zanatul Haeri mengatakan vaksinasi anak usia 12-17 tahun harus diwajibkan dalam mendukung pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas.

    “Kami tetap mendorong vaksinasi anak sebagai sesuatu yang wajib, tidak boleh dilewatkan,” kata Iman kepada Tempo, Sabtu, 18 September 2021.

    Iman menilai vaksinasi anak harus didorong karena mereka rentan terhadap penularan. Apalagi, cakupan vaksinasi usia 12-17 tahun dosis pertama baru mencapai 12,18 persen dari target 26,7 juta anak. Menurut dia, vaksinasi anak dan remaja menjadi penting karena ditemukan sejumlah pelanggaran selama pembelajaran tatap muka terbatas. Pelanggaran tersebut mayoritas dilakukan oleh siswa.

    Di Kabupaten Bima, misalnya, Iman menemukan banyak siswa yang tidak mengenakan masker, lalu jam belajar lebih dari 2 jam. Kemudian daerah Sumatera Utara juga ditemukan pelanggaran berupa tidak menggunakan masker, siswa berusaha mencium tangan gurunya, dan berkumpul di luar sekolah setelah jam pulang.

    Masalah masker juga ditemukan di sekolah yang berada di Jawa Barat. “Siswanya tidak bawa masker, tapi sekolah tidak menyediakan,” ujarnya.

    Di DKI, Iman menemukan jenis pelanggaran yang hampir serupa. Namun, karena fasilitas sekolah sudah cukup memadai, pelanggaran protokol kesehatan yang dilakukan anak tidak terlalu banyak. Misalnya, pelukan, susah menjaga jarak, dan kurang disiplin saat di luar sekolah.

    Iman mengaku belum mendapat laporan adanya klaster penularan setelah PTM terbatas diterapkan. Namun, pemerintah masih belum optimal melakukan pengawasan dan memberikan perhatian, seperti pelatihan untuk guru dalam menyiapkan PTM.

    FRISKI RIANA

    Baca: Pembelajaran Tatap Muka Terbatas, Bantuan Kuota Internet tetap Disalurkan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia Peringkat Pertama Covid-19 Recovery Index Asia Tenggara: Begini Kondis

    Indonesia berada di peringkat pertama di Asia Tenggara dalam Covid-19 Recovery Index yang dirilis media Jepang. Ada hal yang masih jadi perhatian.