Instalasi Listrik Lapas Tangerang Tak Dirawat, LBH: Buruknya Tata Kelola

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kondisi bangunan Blok C2 pascakebakaran di Lapas Kelas 1 Tangerang, Banten, Rabu, 8 September 2021. Kepala Kantor Wilayah Kemenkum HAM Banten Agus Toyib mengatakan bahwa saat proses evakuasi jenazah narapidana di Lapas Kelas 1 Tangerang, banyak kamar sel yang masih dalam keadaan terkunci. Para napi yang kamarnya tak sempat dibuka petugas itu akhirnya tewas saat api melalap bangunan tersebut. ANTARA/Handout

    Kondisi bangunan Blok C2 pascakebakaran di Lapas Kelas 1 Tangerang, Banten, Rabu, 8 September 2021. Kepala Kantor Wilayah Kemenkum HAM Banten Agus Toyib mengatakan bahwa saat proses evakuasi jenazah narapidana di Lapas Kelas 1 Tangerang, banyak kamar sel yang masih dalam keadaan terkunci. Para napi yang kamarnya tak sempat dibuka petugas itu akhirnya tewas saat api melalap bangunan tersebut. ANTARA/Handout

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Advokasi Lembaga Bantuan Hukum Jakarta Nelson Nikodemus Simamora menilai insiden kebakaran di Lapas Kelas I Tangerang atau Lapas Tangerang menjadi bukti buruknya tata kelola dan keamanan bagi warga binaan.

    “Padahal sesuai dengan namanya mereka adalah warga binaan yang diharapkan bisa kembali ke masyarakat dan memulai hidup baru setelah menjalani hukuman,” kata Nelson dalam keterangannya, Kamis, 9 September 2021.

    Nelson mengungkapkan, dalam insiden kebakaran tersebut, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly mengakui bahwa instalasi listrik Lapas Kelas I Tangerang belum pernah diperbaiki sejak bangunan itu berdiri pada 1972. 

    Selain itu, kata Nelson, berdasarkan keterangan Direktur Keamanan dan Ketertiban Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kemenkumham Abdul Aris, hanya ada satu regu atau sekitar 15 petugas yang mengamankan Lapas Tangerang secara keseluruhan, saat terjadi kebakaran.

    LBH Jakarta juga menyoroti kondisi kelebihan kapasitas hunian lapas tersebut. Lapas Kelas I Tangerang memiliki daya tampung sebanyak 600 orang, namun saat ini dihuni 2.072 warga binaan atau kelebihan kapasitas 250 persen. Blok yang terbakar juga merupakan blok khusus narkotika. “Kondisi tersebut bisa dibilang sebagai salah satu penyebab banyaknya korban jiwa dalam kebakaran ini,” katanya.

    Atas kejadian tersebut, Nelson mendesak agar kepolisian melakukan penyelidikan dan penyidikan secara transparan dan akuntabel tentang penyebab kebakaran. Ia juga meminta pemerintah dan DPR melakukan evaluasi terhadap kerja Ditjen Pemasyarakatan, khususnya Lapas Kelas I Tangerang.

    Kemenkumham juga diminta melakukan evaluasi keseluruhan kondisi lapas dan rumah tahanan secara berkala dan menjamin bahwa tragedi seperti itu tidak terulang kembali.

    FRISKI RIANA

    Baca: Korban Meninggal Kebakaran Lapas Tangerang Bertambah 3 Orang


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.