Buronan Kasus BLBI Ditangkap di Australia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Kejaksaan Agung menyatakan, buronan kasus dugaan korupsi bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI), Adrian Kiki Aryawan, telah ditangkap. Wakil Jaksa Agung Muchtar Arifin mengatakan, Adrian ditangkap kepolisian setempat pada Jumat dua pekan lalu di Perth, Australia. Dia kini ditahan di Perth," kata Muchtar seusai menghadiri peringatan Hari Antikorupsi se-Dunia di Jakarta, Selasa (9/12).Adrian adalah mantan bos PT Bank Surya. Bersama Bambang Sutrisno (wakil presiden komisaris), dia didakwa diduga menyalurkan kredit ke beberapa perusahaan fiktif. Akibatnya, negara dirugikan sebesar Rp 1,9 triliun.Pada sidang 8 Juli 2002, Adrian dan rekan-rekannya memilih mangkir. Adrian lari ke Australia sementara Bambang memilih kabur ke Singapura. Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menetapkan sidang dilanjutkan secara in absentia alias tanpa dihadiri terdakwa. Pada 13 November 2002, Pengadilan memvonis keduanya hukuman seumur hidup tanpa kehadiran kedua terdakwa di persidangan.Muchtar menjelaskan, setelah penangkapan, Adrian tidak bisa langsung diekstradisi ke Indonesia. Adrian, kata Muchtar, bakal menghadapi persidangan ekstradisi di Australia. Hal ini sesuai prosedur hukum di Australia. Prosedurnya memang begitu, kata Ketua Tim Pemburu Koruptor itu. Dalam persidangan itu, menurut Muchtar, dibutuhkan proses yang cukup lama. Mulai dari pengajuan sidang, lalu pengajuan banding hingga bisa tidaknya diekstradisi ke Indonesia. "Kalau diikuti prosesnya bisa sampai 2,5 tahun, kata Muchtar.Menurut Muchtar, proses yang cukup lama itu bisa menghambat pengembalian Adrian ke Indonesia. Karena itu, rencananya, pada Selasa malam ini dia bersama Tim Pemburu Koruptor akan berangkat ke Australia untuk berkoordinasi mempercepat pemulangan Adrian.Anton Septian

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.