KKP Selamatkan Dugong Terjerat Jaring Nelayan

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan (Kabaharkam) Polri Komjen Pol Arief Sulistyanto (tengah) didampingi Kapolda Kepri Irjen Pol Aris Budiman (Kedua kiri), dan Dirjen PSDKP-KKP Laksamana Muda TNI Adin Nurawaluddin (Kanan kedua) memberikan keterangan kepada wartawan saat rilis penangkapan empat kapal nelayan asing, di Pelabuhan Batu Ampar, Batam, Kepulauan Riau, Selasa 31 Agustus 2021. ANTARA FOTO/Teguh Prihatna

    Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan (Kabaharkam) Polri Komjen Pol Arief Sulistyanto (tengah) didampingi Kapolda Kepri Irjen Pol Aris Budiman (Kedua kiri), dan Dirjen PSDKP-KKP Laksamana Muda TNI Adin Nurawaluddin (Kanan kedua) memberikan keterangan kepada wartawan saat rilis penangkapan empat kapal nelayan asing, di Pelabuhan Batu Ampar, Batam, Kepulauan Riau, Selasa 31 Agustus 2021. ANTARA FOTO/Teguh Prihatna

    INFO NASIONAL – Dua ekor dugong yang terjerat jaring nelayan di lokasi wisata Pantai Taragusung, Desa Santigi, Kecamatan Tolitoli Utara, Kabupaten Tolitoli, Provinsi Sulawesi Tengah, berhasil dievakuasi dan diselamatkan petugas dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui tim quick response (respon cepat) dari jejaring konservasi Kabupaten Tolitoli.

    Dugong yang terikat tersebut awalnya terperangkap pada alat tangkap sero (keramba tancap) nelayan, lalu dilepaskan  ke alam. Selang beberapa hari, dugong tersebut ditemukan terperangkap kembali  di lokasi yang sama sehingga dugong diikat oleh warga di lokasi untuk memulihkan kondisi dan mengobati luka di tubuhnya.

    “Sebelum dilepasliarkan tim melakukan pengecekan kondisi luka dengan melibatkan dokter hewan dan mengambil data morfometrik untuk keperluan database. Hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi luka di tubuh dugong mulai sembuh sehingga direkomendasikan untuk dilepasliarkan ke habitatnya,” ujar Kepala Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut  (BPSPL) Makassar, Getreda M. Hehanusa. 

    Berdasarkan hasil pengukuran kedua biota tersebut diperoleh data morfometrik bahwa dugong berkelamin jantan dan betina. Dugong betina memiliki panjang tubuh mencapai 232 cm, lingkar badan 155 cm, dan panjang ekor 82 cm kategori dewasa. Sedangkan dugong berjenis kelamin jantan panjang tubuhnya mencapai 180 cm dengan lingkar badan 140 cm dan panjang ekor 60 cm kategori remaja.

    Dugong merupakan biota yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, UU No 45 Tahun 2009 tentang Perubahan UU No.31 Tahun 2004 tentang Perikanan serta Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999, dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No P.106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.  

    “Kami sangat apresiasi atas inisiatif masyarakat di pesisir Tolitoli yang telah berusaha melepaskan kembali dugong yang tertangkap pada jaring nelayan karena ini  jenis biota laut yang dilindungi UU,” kata Plt. Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Pamuji Lestari.

    Lebih lanjut Pamuji atau Tari juga menambahkan selain diatur dalam UU, dugong termasuk dalam daftar merah the International Union on Conservation of Nature (IUCN) sebagai satwa yang rentan terhadap kepunahan dan termasuk dalam Apendiks I _the Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES).

    Untuk menjaga keberadaan dugong agar tetap terjaga dan lestari, kabupaten Tolitoli menjadi salah satu dari empat daerah di Indonesia yang ditetapkan sebagai pilot project Dugong and Seagrass Conservation Project (DSCP) selain di Bintan Kepulauan Riau, Alor Nusa Tenggara Timur, dan Kotawaringin Barat Kalimantan Tengah.

    Sejalan dengan kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, perlindungan terhadap ekosistem dan jenis ikan selaras dengan prinsip ekonomi biru (blue economy). Karenanya berbagai upaya edukasi dan penyadartahuan kepada masyarakat khususnya dalam menangani mamalia laut terdampar atau terperangkap serta penyebarluasan informasi agar populasi dugong tetap terjaga dan lestari terus dilakukan.(*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.