Jokowi Resmikan Bendungan Kuningan: Kisah Warga Kaya Mendadak hingga Relokasi

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo memberikan pernyataan pers tentang perkembangan terkini pelaksanaan PPKM di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 30 Agustus 2021. Jokowi memperpanjang kebijakan PPKM hingga 6 September 2021. ANTARA/Biro Pers dan Media Setpres

    Presiden Joko Widodo memberikan pernyataan pers tentang perkembangan terkini pelaksanaan PPKM di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 30 Agustus 2021. Jokowi memperpanjang kebijakan PPKM hingga 6 September 2021. ANTARA/Biro Pers dan Media Setpres

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi melakukan kunjungan kerja ke Kota Cirebon dan Kabupaten Kuningan, Jawa Barat hari ini Selasa, 31 Agustus 2021. Rencananya, Jokowi akan meninjau pelaksanaan vaksinasi Covid-19 bagi masyarakat hingga meresmikan Bendungan Kuningan.

    "Mengakhiri rangkaian kunjungan kerja di Kabupaten Kuningan, Jokowi akan meresmikan Bendungan Kuningan sebelum kembali ke Jakarta pada sore harinya," demikian keterangan pers BPMI Sekretariat Presiden, Selasa, 31 Agustus 2021.

    Bendungan Kuningan direncanakan tahun 2013 lalu baru terealisasi sekitar tahun 2018 dengan menelan biaya APBN sebesar Rp 519 miliar. Seharusnya selesai tahun 2020 namun karena kendala ganti uang lahan pencairan danapun tertunda. Bendungan ini akan mendapatkan pasokan air dari Sungai Cijangkelok dan dapat mengaliri sawah seluas 1.000 hektar di kabupaten Kuningan, Jawa Barat dan 2.000 hektar di kabupaten Brebes Jawa Tengah. Selain itu, Bendungan Kuningan juga berfungsi sebagai pengendali banjir, penyedia air baku 300 liter per detik, dan pembangkit listrik sebesar 500 kw.

    Namun, tercatat ada 6 desa di dua kecamatan yang terdampak dari adanya pembanguan Bendungan Kuningan ini. Yaitu Desa Sukarapih, Desa Randusari, dan Desa Kawungsari pada Kecamatan Cibereum. Dan Desa lainnya ada Desa Cihanjaro, Desa Simpajaya, Desa Tanjungkerta pada Kecamatan Karangkencana.

    Saat Tempo berkunjung Desa Kawungsari, Kecamatan Cibeureum, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat pada Februari lalu, sudah sekitar 300 ratus motor dan belasan mobil dibeli warga setelah mendapat ganti untung proyek Bendungan Kuningan. Uang pergantian tanah dan bangunan dibagi tiga tahap, sudah dua kali dibagikan ke 279 bidang tanah. Saat itu, ada 94 bidang belum dibayarkan.

    Desa Kawungsari merupakan desa yang paling rendah dibanding desa dan kecamatan sekitarnya, sehingga desa subur ini akan dijadikan dasar bendungan Kuningan yang memiliki kapasitas 25.96 meter kubik. Bendungan ini diharapkan akan mengaliri air seluar 3.000 hektar di sekitarnya hingga perbatasan Jawa Barat - Jawa Tengah. Pasokan air baku diperkirakan sebesar 0.30 meterkubik perdetik dan menghasilkan listrik sebesar 0.50 mega watt.

    Ketika Tempo sampai ujung desa pada Selasa 23 Februari 2021, terlihat 1 mobil dari Showroom Yamaha JG Kuningan, membawa 3 unit motor all new N-Max 155 cc seri terbaru. Beberapa warga yang melintas berhenti, meminta brosur dan melihat langsung motornya. Menurut Kepala Cabang Yamaha JG, Kiki Hekawati, dealernya sudah menjual 10 unit N-Max terbaru dengan harga 29.3 juta rupiah untuk non abs dan 33.9 juta abs, semua tunai. Karena tidak mungkin diberi kredit. “Mereka yang beli motor karena sudah dapat uang ganti, data yang kami dapat sudah 300 unit motor berbagau merk terjual disini, kami tadi ke desa itu mendata warga yang akan beli motor lagi,” kata Kiki kepada Tempo, Selasa 23 Februari 2021.

    Menelusuri jalan berliku dengan turunan ekstrim, akhirnya sampai ke desa Kawung Sari, di persimpangan jalan, dekat warung kopi, sedikitnya ada 15 orang sales motor dan mobil yang sedang beristirahat setelah keliling kampung membagikan brosur dan menjelaskan spesifikasi kendaraannya. Sales mobil Toyota, Honda dan Daihatsu terlihat dari seragamnya, para sales motor menghitung hasil peminatnya.

    Nopi Supriadi, sales sumber rejeki motor Honda bersyukur, motor PCX yang ditawarkan dibeli oleh beberapa orang, “Alhamdulillah, kemarin sudah laku sekitar 15 unit, tadi saya sudah mendapatkan calon pembeli juga, katanya kalau uangnya cair langsung bayar cash,” ujarnya sumingrah.

    Saat Tempo menelusuri jalan desa itu, sebuah Toyota Avanza Veloz baru melintas, didalamnya seorang bapak berusia sekitar 55 tahun, Kusmawan, seorang pedagang dari RT 06/02, Kampung Wage, Desa Kawung Sari. Dia salah satu warga yang mendapatkan uang sekitar 1 miliar dari pergantian rumah, toko dan tanahnya.

    Pada 5 Februari lalu, dia sudah mendapatkan uang tersebut, lalu dibelikan mobil baru harganya sekitar 200 jutaan, sebagian beli tanah untuk membangun ruko untuk usahanya. “Sisanya buat modal usaha dan tabungan sekolah anak saya. Hampir semua warga mendapatkan uang pergantian yang fantastis itu sukanya, dukanya belum tahu kedepannya seperti apa,” katanya.

    Meskipun dapat uang banyak, namun warga harus mau direlokasi atau menghuni rumah yang lebih kecil. "Warga saya sedih karena rumah yang tadinya besar dan halamannya luas jadi rumah tipe 28, tapi mereka gembira dapat uang,” kata Kepala Desa Kawungsari, Kusto.

    Adapun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui Ditjen Perumahan telah menyiapkan rumah khusus guna merelokasi masyarakat yang terdampak kegiatan konstruksi Bendungan Kuningan di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. “Kami terus mendorong pembangunan rumah khusus untuk relokasi masyarakat yang terdampak pembangunan Bendungan Kuningan ini. Nantinya mereka akan dipindahkan ke lokasi ini sehingga bisa menempati rumah beserta keluarganya,” kata Dirjen Perumahan Kementerian PUPR Khalawi Abdul Hamid dalam keterangannya, Minggu 25 April 2021.

    Menurut dia, setidaknya terdapat 419 rumah tipe 28 yang tengah dalam proses pembangunan dan 25 unit sudah selesai dibangun di atas lahan seluas 9,49 hektare dan diharapkan dapat selesai dalam waktu dekat agar bisa segera dihuni oleh masyarakat.

    MEGA SAFITRI | DEFFAN PURNAMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.