TEMPO.CO, Jakarta - Eks Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara Tjandra Yoga Aditama mengatakan ada lima semangat kemerdekaan yang bisa diterapkan oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia, dalam menghadapi pandemi Covid-19. Semangat ini ia harapkan bisa diterapkan, terlebih saat bulan kemerdekaan seperti saat ini.
Pertama, Tjandra mendorong masyarakat untuk terus meningkatkan kesadaran bahwa pandemi ini adalah masalah bersama, dan hanya dapat diselesaikan dengan upaya bersama pula.
"Komunikasi publik yang dibangun juga mungkin akan lebih baik kalau dilakukan bukan antara pemerintah dan masyarakat, tetapi merupakan kegiatan bersama, informasi bersama dengan pesan tanggung jawab bersama," kata Tjandra dalam keterangan tertulis, Ahad, 29 Agustus.
Perjuangan kedua adalah adalah kegigihan. Tjandra mengatakan pandemi Covid-19 memiliki tiga masalah besar. Yakni diagnosis masih terbatas dengan PCR dan rapid antigen, obat yang dapat membunuh virusnya belum ada, dan vaksin yang tersedia juga belum 100 persen dapat mencegah penyakit.
Selain itu, berkembangnya berbagai varian baru bukan hanya yang Delta sekarang ini. Emergency Committee Covid-19 WHO juga telah menyatakan tentang kemungkinan akan ada varian baru lagi di waktu mendatang yang mungkin saja lebih berbahaya dan sulit dikendalikan. Pandemi juga memporak porandakan berbagai sisi kehidupan.
Perjuangan penting ketiga adalah tentang senjata yang digunakan. Bila pejuang dulu antara lain mengunakan bambu runcing, Tjandra mengatakan saat ini kita menggunakan senjata berupa ilmu pengetahuan, yang jadi acuan kita dalam menyelesaikan Covid-19. Dalam hal ini maka data yang valid, surveilans yang baik serta keterbukaan informasi serta pengolahan berdasar ilmiah yang akurat menjadi amat penting.
"Keputusan dan kebijakan yang diambil tentu harus berdasar ilmu pengetathuan yang valid, evidence-based decision making process," kata Tjandra.
Tjandra juga mengatakan semangat menjaga hubungan internasional juga sama pentingnya. Pandemi adalah wabah yang mendunia. Pandemi tidak akan dapat diselesaikan oleh satu atau beberapa negara saja. “No one is safe until everyone is safe”.
"Karena itu perjuangan penting keempat kita adalah berperan amat aktif dalam dunia internasional dan kerjasama antar bangsa untuk menanggulangi pandemi," kata dia.
Perjuangan ke lima, yang lebih praktis adalah upaya keras kita untuk mewujudkan target dan program pengendalian Covid-19. Dari pengalaman berbagai negara, virus ini dapat dikendalikan dengan tiga program utama, pertama pembatasan sosial, ke dua tes, telusur dan terapi serta ke tiga vaksinasi.
Tjandra mengatakan untuk pembatasan sosial, seluruh kita rakyat Indonesia harus melaksanakan protokol kesehatan dengan ketat. Dari sudut pemerintah maka kebijakan pembatasan sosial tentu juga harus dilakukan dengan konsisten, baik dalam bentuk PPKM, PSBB atau bentuk-bentuk yang lain.
Dalam hal tes dan telusur maka anggota masyarakat yang ada gejala dan atau ada riwayat kontak maka harus melakukan tes, dan kalau positif perlu ditangani dengan baik. Dalam hal ini, Tjandra mengatakan target yang sudah cukup lama dicanangkan untuk melakukan sekitar 400 ribu test sehari dan melakukan telusur 15 orang untuk setiap kasus haruslah segera diwujudkan untuk menjadi kenyataan.
Terkait vaksinasi, target yang sudah disebutkan untuk memvaksinasi 2 juta orang perhari harus benar-benar diimplementasikan di lapangan. Tjandra mendorong pemerintah mempermudah akses vaksin, misalnya dengan dilakukan vaksinasi Covid-19 di semua Puskesmas dan Rumah Sakit yang ada di negara kita.
"Jadi, orang dapat di vaksin di dekat rumah dan atau tempat kerjanya secara mudah," kata Tjandra.











