Meski Sedang Mesra, Gerindra Akui Tetap Waspadai PDIP

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Indonesia ke-5 Prof. Dr. (H.C) Megawati Soekarnoputri (tengah) berswafoto  bersama Ketua DPR Puan Maharani (kanan) dan Menteri Pertahanan Prabowo Soebianto (kiri)  seusai prosesi  Pengukuhan Guru Besar,  di Aula Merah Putih, Universitas Pertahanan, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat, 11 Juni 2021. ANTARA/Yulius Satria Wijaya

    Presiden Indonesia ke-5 Prof. Dr. (H.C) Megawati Soekarnoputri (tengah) berswafoto bersama Ketua DPR Puan Maharani (kanan) dan Menteri Pertahanan Prabowo Soebianto (kiri) seusai prosesi Pengukuhan Guru Besar, di Aula Merah Putih, Universitas Pertahanan, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat, 11 Juni 2021. ANTARA/Yulius Satria Wijaya

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Umum DPP Gerindra, Ferry Juliantono, mengatakan tetap waspada dengan PDIP, kendati hubungan kedua partai ini sekarang sedang mesra.

    Teranyar, empat hari lalu, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto bertemu dengan Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani. Keduanya menyebut pertemuan itu sebagai nostalgia masa lalu ketika Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto berpasangan di Pilpres 2009.

    "Kemesraan ini harus dikuatkan terus, mesra tapi waspada juga," kata Ferry dalam acara diskusi daring yang digelar MNC Trijaya, Sabtu, 28 Agustus 2021.

    Saat disinggung apakah kewaspadaan itu berkaitan dengan perjanjian batu tulis beberapa tahun lalu, Ferry tertawa sambil berseloroh. "Bukan, kan kemesraan itu memang harus disertai dengan kewaspadaan," ujarnya. "Dinamikanya itu kan kami 2009 bareng, 2014 dan 2019 berseberangan, dan sekarang bareng lagi".

    Sesama senior dalam politik, Prabowo dan Megawati memang pernah menjadi kawan maupun lawan. Hubungan keduanya pun mengalami pasang surut seiring dengan posisi politik masing-masing.

    Megawati dan Prabowo pertama kali bersanding sebagai calon presiden-wakil presiden di Pemilihan Umum 2009. Namun keduanya kalah telak dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Boediono yang meraup 60 persen suara.

    Pilpres 2009 ini juga menjadi awal mula retaknya hubungan Megawati dan Prabowo lima tahun kemudian. Kala itu, Mega dan Prabowo menandatangani komitmen bersama di Istana Batu Tulis, Bogor, Jawa Barat yang belakangan dikenal sebagai Perjanjian Batu Tulis.

    Dalam kesepakatan itu, Prabowo meminta diberi keleluasaan mengatur ekonomi Indonesia dan menunjuk sepuluh menteri jika mereka menang pilpres. Adapun Megawati berjanji mendukung Prabowo di Pemilihan Presiden 2014.

    Belakangan, PDIP justru mengusung Joko Widodo di Pilpres 2014. Sejumlah politikus Gerindra menagih ikrar Megawati. Tak tinggal diam, elite PDIP menyebut kekalahan di pilpres 2009 disebabkan keengganan Prabowo menggelontorkan logistik meski kekayaannya ketika itu hampir Rp 2 triliun.

    Hubungan kedua partai pun merenggang. Bergandengan dengan Partai Keadilan Sejahtera, Gerindra menjadi oposisi selama lima tahun pemerintahan Jokowi - Jusuf Kalla, pasangan yang diusung PDIP.

    Hubungan Megawati dan Prabowo menghangat kala keduanya bertemu di arena pencak silat Asean Games 2018 pada Agustus tahun lalu. Prabowo yang juga Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia menyambut Megawati, dengan terlebih dulu berganti mengenakan busana adat.

    Sekarang, Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto bergabung ke dalam koalisi Jokowi. Ia menjadi Menteri Pertahanan.

    Baca juga: Prabowo Sebut Keputusan Jokowi Tak Lockdown Menyelamatkan Rakyat


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.