Sekjen Muhammadiyah: Pendidikan Harus Mendekatkan Anak ke Budaya dan Alam

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Siswa-siswi saat mengikuti penilaian akhir sekolah di SD Negeri Kota Baru 3, Bekasi Barat, Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa, 8 Juni 2021. Ujian ini dilaksanakan secara tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan ketat serta membagi beberapa sesi kelas untuk ujian, satu sesi kelas terdiri dari 15 orang anak. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Siswa-siswi saat mengikuti penilaian akhir sekolah di SD Negeri Kota Baru 3, Bekasi Barat, Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa, 8 Juni 2021. Ujian ini dilaksanakan secara tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan ketat serta membagi beberapa sesi kelas untuk ujian, satu sesi kelas terdiri dari 15 orang anak. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menilai pendidikan Indonesia harus dikembangkan ke arah yang mendekatkan anak-anak ke dalam budaya dan alam.

    “Jangan sampai punya keterampilan canggih, tapi mereka kehilangan akar-akar budaya,” kata Mu’ti dalam acara Refleksi 76 Tahun Pendidikan Nasional, Sabtu, 28 Agustus 2021.

    Mu’ti mengaku prihatin mengenai anak-anak yang tinggal di dekat pantai atau laut, namun tidak dekat dengan alam di mana mereka berada. Atau anak-anak yang tinggal di daerah perkebunan teh, tetapi tidak mengerti kultur teh.

    Dengan pendidikan yang mendekatkan anak terhadap alam, kata Mu’ti, dapat membuat mereka mengeksplorasi kekayaan alam tempat mereka berada untuk menyejahterakan keluarganya.

    Di samping itu, kebanggaan generasi muda pada budaya dan warisan luhur dari pendiri bangsa juga harus menjadi perhatian pendidikan di masa depan. Mu’ti mengatakan, bangsa Indonesia bisa meniru Jepang yang sudah maju namun masih memelihara akar budayanya.

    Apalagi, kata Mu’ti, berbagai negara kini tidak hanya mengekspor produk teknologi, tapi juga budayanya. Ia mencontohkan drama Korea Selatan yang menjadi tren dan mengalahkan Hollywood dan Bollywood.

    Kemudian makanan seperti kimchi dan ginseng kini identik dengan Korea. Sementara jahe, menurut Mu’ti, belum tentu dianggap identik dengan Indonesia. “Padahal jahe itu adalah Indonesia. Saya kira karena sebagian pendidikan belum berpihak pada kebudayaan dan alam yang dimiliki,” kata Sekjen Muhammadiyah ini.

    Baca juga: PBNU dan Muhammadiyah Kompak Tolak Rencana Pajak Sekolah


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.