Pelantikan Pembantu Rahardjo di Keraton Kasepuhan Cirebon Diwarnai Lemparan Batu

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Keraton Kasepuhan. TEMPO/Subekti

    Keraton Kasepuhan. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Cirebon – Rahardjo Djali yang mengangkat dirinya sebagai Sultan Aloedin II melantik kabinetnya istilah untuk para pembantunya di Keraton Kasepuhan Cirebon hari ini Rabu 25 Agustus 2021. Pelantikan ini diwarnai dengan lembaran batu yang dilakukan sekelompok orang yang memprotes pelantikan tersebut. 

    Pelantikan yang dilakukan Rahardji Djali berlangsung di Jinem Pangrawit. Ratu Alexandra Wuryaningrat, bibi dari Sultan Sepuh XV PRA Luqman Zulkaedin menghampiri lokasi pelantikan dan mempertanyakan kegiatan tersebut.

    Sekalipun sempat diwarnai kericuhan, pelantikan ‘kabinet’ versi Rahardjo Djali tetap berlangsung. Selepas zuhur, sekelompok orang dari kubu Rahardjo Djali keluar dari Omah Kulon, kediaman Rahardjo Djali yang masih berada di lingkungan keraton Kasepuhan dan terlihat melakukan foto-foto di depan Jinem Pangrawit.

    Tiba-tiba sekelompok massa keluar dari keraton dan melakukan pelemparan batu. Hingga berita ini diturunkan, belum diketahui massa tersebut berasal dari kelompok mana. Saat pelemparan batu, orang dari kubu Rahardjo Djali berlari ke Omah Kulon yang disusul dengan pengejaran dan aksi lemparan batu dari massa tak dikenal itu.

    Setelah kericuhan berhasil diredam, saat ini aparat kepolisian dan TNI terlihat berjaga di Keraton Kasepuhan. Kapolres Cirebon Kota (Ciko) Ajun Komisaris Besar Imron Ermawan, menjelaskan saat ini situasi di Keraton Kasepuhan sudah aman dan terkendali. “Masyarakat juga sudah beraktivitas seperti biasa,” ungkap Imron.

    Ivansyah

    Baca: Diwarnai Konflik, Rahardjo Diangkat Jadi Sultan Kasepuhan Cirebon


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.