DPR Pertanyakan Kewenangan DPD Usul RUU BUMDes

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Waka I Komite I DPD RI Dapil Papua Barat Filep Wamafma

    Waka I Komite I DPD RI Dapil Papua Barat Filep Wamafma

    INFO NASIONAL – DPR RI mempertanyakan masuknya RUU BUMDes dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) .  RUU yang diinisiasi oleh Dewan Perwakilan Daerah (DPD) tersebut masuk daftar Prolegnas tanpa “koreksi” DPR. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai kewenangan DPD RI.

    Wakil Ketua Komisi V DPR, Muhammad Arwani Thomafi mengatakan bahwa usulan tersebut hanya sekedar pendapat dari DPD. Namun segala keputusan tetap berada di tangan anggota DPR. 

    “Jadi tidak melalui Baleg lagi. Oleh Presiden lalu terbit Surpres ke Pimpinan DPR kemudian Rapat Badan Musyawarah (Bamus) menugaskan Komisi V. Jadi ini baru ada RUU dari DPD di periode kali ini dan selama kerja-kerja legislasi,” Kata Arwani, 20 Agustus 2021. 

    Kepala Badan Keahlian DPR Inosentios Syamsul juga memberikan tanggapan, bahwa berdasarkan pasal 20 ayat 2 UUD 1945 setiap RUU dibahas oleh DPR bersama Presiden. Bukan dengan DPD. Karena itu, menurutnya, seluruh jalannya persidangan harus dikendalikan oleh DPR. 

    Kisruh soal kewenangan tersebut membuat DPD RI Filep Wamafma ikut bersuara. Menurut dia, DPR RI tak seharusnya sibuk mempertanyakan ranah kewenangan usulan RUU tersebut. 

    “Sejatinya, kewenangan legislasi DPD RI tidak boleh diragukan. Baca lagi Pasal 22D ayat 1, 2 dan 3 UUD 1945 serta Putusan MK yang mengafirmasi kembali posisi DPD” ujar alumni magister Hukum Unhas ini. 

    Menurutnnya, konstruksi Pasal 22D yang terdapat pada Konstitusi tersebut menggarisbawahi sejauh mana peran DPD dalam mengajukan usulan RUU, membahas, dan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan UU. 

    Namun menurut Filep, dalam proses perumusan UU, DPD RI seringkali hanyalah dijadikan pelengkap, sebagaimana dalam Pasal 22 D disebutkan kata “ikut”, yang sekadar bermakna “partisipasi”, suatu  constitutional participant, yang perannya sangat terbatas. 

    Jika ditilik dari Putusan MK Nomor 92/PUU-X/2012, MK secara tegas mengafirmasi kembali posisi DPD yaitu: (1) terlibat dalam pembuatan Program Legislasi guna mewakili kepentingan daerah, (2) berhak mengajukan RUU sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) UUD 1945, (3) membahas RUU secara penuh dan bukan sekadar partisipan, sehingga DPR dan Pemerintah tidak boleh membatasi ruang DPD terkait hal ini. 

    Sementara terkait pengajuan RUU, MK memutuskan bahwa kedudukan DPD sama dengan DPR dan Presiden dalam hal mengajukan RUU. DPD juga dapat mengajukan RUU di luar Prolegnas, dan usul RUU dari DPD tidak menjadi usul RUU DPR, sehingga pembahasan RUU dilakukan secara tripartit antara Presiden, DPD, dan DPR, atau bukan diwakili/berhadapan dengan fraksi-fraksi di DPR.

    Atas dasar pertimbangan tersebut, Filep menekankan agar kisruh soal kewenangan DPD RI harus ditanggapi secara tegas. 

    “Pernyataan anggota DPR RI tersebut keliru dan merendahkan institusi DPD RI. Kita minta agar yang bersangkutan menyampaikan permohonan maaf dan layak ditegur oleh Ketua fraksi yang bersangkutan,”  kata Wakil Ketua I Komite I DPD RI ini.

    “Dengan demikian, dalam konteks RUU BUMDes, pembahasan RUU ini harus diberlakukan secara sama sebagaimana bila RUU berasal dari inisiatif Presiden ataupun DPR. Dalam hal pembahasan RUU yang diusulkan oleh DPD, MK berpendapat bahwa DPD diberikan kesempatan untuk memberikan penjelasan, sedangkan DPR dan Presiden memberikan pandangan. Maka sesungguhnya tidak ada alasan untuk menolak atau merasa ragu dengan RUU yang diusulkan DPD RI.” Ujar Filep.

    Ia menyebut bahwa DPD memiliki kewenangan penuh dan tak terbagi terkait pengusulan RUU BUMDes. DPD memiliki hak untuk memberikan penjelasan terkait RUU ini, yang kemudian akan ditanggapi secara tripartit oleh Presiden dan DPR.  (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.