Pimpin Upacara Kemerdekaan, Sultan HB X Singgung Soal PPKM dan Chaos

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X. Dok. Pemda Yogyakarta

    Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X. Dok. Pemda Yogyakarta

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X atau Sultan HB X memimpin upacara detik-detik proklamasi Kemerdekaan ke 76 di Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta secara tertutup.

    Dalam pidatonya, Sultan mengatakan saat Proklamasi 1945, Indonesia masih di bawah kekuasaan Dai Nippon dan bayang-bayang kembalinya kolonialis Belanda.

    "Namun situasi kekacauan yang sama, kini juga kita rasakan kehadirannya, meski beda wujudnya. Sekarang kita berada dalam cengkeraman Covid-19 yang telah menyebar menjadi pandemi global," kata Sultan.

    Sultan mengibaratkan pandemi Covid-19 ini seperti sebuah chaos atau kekacauan. "Setiap chaos hendaknya jangan dipandang sebagai negative chaos. Melainkan sebuah positive chaos yang membuka peluang kemajuan," kata Sultan.

    Sultan menjelaskan jika dulu masa kemerdekaan, para pejuang selalu menghadapi ancaman Kenpeitai, Gestaponya bala tentara Jepang, namun pada akhirnya bisa lepas dari bangsa terjajah menjadi bangsa merdeka dan berdaulat.

    Sultan mengatakan terhadap penyebaran virus Covid ini masyarakat mau tak mau harus bekerja di rumah dan memunculkan kreativitas.

    "Kita dipaksa untuk sering mencuci tangan dan memakai masker, dampaknya kita terbiasa dengan budaya bersih. Dampak kelanjutannya, setiap komunitas akan bersikap lebih peduli lingkungan," kata Sultan.

    Sultan mengatakan hari kemerdekaan yang bertepatan dengan pemberlakuan kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang sudah berlaku sejak 3 Juli hingga 23 Agustus nanti, ia berharap langkah-langkah pengetatan dapat menunjukkan tren penurunan kasus yang terus membaik.

    "Dalam kaitan itu, saya sudah mengingatkan, bahwa pepatah mangan ora mangan waton kumpul yang dulu lekat sebagai ikatan kekerabatan kita, kini tidak tepat Iagi untuk dijadikan panutan keluarga," kata Sultan.

    Sultan meminta, bagi yang terpapar Covid-19 harus berbesar hati dan rela dipindahkan ke sheler atau isolasi terpadu secara berjenjang.

    "Jika penularan di tingkat keluarga dan RT bisa dihentikan, Insyaallah secara bertahap kondisi akan terus membaik, hingga bisa hidup normal kembali dengan cara baru," ujar Sultan.

    Sultan mengajak seluruh warga untuk menumbuhkan optimisme dan saling percaya antar warga untuk melawan Covid yang tak bisa diramalkan sampai kapan berakhirnya.

    "Konsekuensinya, kita harus siap hidup harmoni dengannya. Dengan penemuan vaksin, bahkan mungkin nanti obat anti covid, akan bisa memberi jaminan kesehatan dan rasa aman," ujar dia.

    Upacara di Istana Gedung Agung dilakukan secara sederhana dan khidmat, minimalis dan mematuhi protokol kesehatan pencegahan COVID-19 dengan hanya melibatkan komandan upacara sebanyak satu orang, Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) dengan formasi pasukan 17-8-45, pasukan upacara sebanyak 40 orang berasal dari TNI/POLRI, korps musik sebanyak 24 orang dan pembawa acara sebanyak dua orang.

    PRIBADI WICAKSONO

    Baca: HUT ke-76 RI, SBY: Badai Pandemi Pasti Berlalu, Pemerintah Penuhi Harapan Rakyat


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kue Bulan dalam Festival Tengah Musim Gugur atau Mooncake Festival

    Festival Tengah Musim Gugur disebut juga sebagai Festival Kue Bulan atau Mooncake Festival. Simak lima fakta unik tentang kue bulan...