17 Kata Bijak Pahlawan Nasional, Apa yang Disampaikan Bung Hatta dan Tan Malaka?

Reporter

Bung Hatta atau Mohammad Hatta. Wikipedia

TEMPO.CO, Jakarta - Para pahlawan nasional selalu memiliki kata-kata bijak, tentang semangat kemerdekaan yang mereka perjuangkan.

Hal ini bisa dijadikan perenungan dan pembelajaran bagi generasi Indonesia yang akan datang. Tidak bisa dipungkiri, semangat nasionalisme yang dibangun dalam tubuh negara Indonesai oleh para tokoh-tokoh pahlawan lahir dari kutipan-kutipan yang mereka sampaikan.

Kata-kata bijak atau yang saat ini sering disebut quotes keluar dari mulut para tokoh tidak sembarangan. Hal ini keluar karena semangat dan jiwa revolusi mereka ketika memperjuangkan Indonesia. Selain itu, sikap progresif para tokoh yang mereka cerminkan dari berbagai macam literatur yang dibaca. Berikut kata-kata bijak para tokoh-tokoh di awal kemerdekaan Indonesia.

Sukarno:

  • "Bermimpilah setinggi langit. Jika kamu jatuh, kamu akan jatuh di antara bintang-bintang."
  • “Kemerdekaan hanyalah didapat dan dimiliki oleh bangsa yang jiwanya berkobar-kobar dengan tekad ‘Merdeka, merdeka atau mati'!”

Bung Hatta:

  • “Tak masalah jika aku harus dipenjara. Namun, aku ingin dipenjara bersama buku, karena dengan buku aku menjadi bebas.”
  • “Kurang cerdas bisa diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki.

Sultan Hamengkubuwono IX:

  • “Membalas akan membuatmu sejajar dengan musuhmu, tetapi mengampuninya akan menempatkanmu di atas musuhmu.”
  • “Walaupun saya telah mengenyam Pendidikan Barat yang sebenarnya, tetapi saya pada dasarnya adalah dan tetap seorang jawa.”

RA Kartini:

  • "Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya."
  • "Untuk sementara didiklah, berilah pelajaran kepada anak-anak perempuan kaum bangsawan: dari sinilah peradaban bangsa harus dimulai. Jadikanlah mereka ibu-ibu yang cakap, cerdas, dan baik. Maka mereka akan menyebarluaskan peradaban di antara bangsanya."

Ki Hajar Dewantara:

  • “Kalau suatu ketika ada orang meminta pendapatmu,apakah Ki Hadjar itu seorang nasionalis, radikalis, sosialis, demokrat, humanis, ataukah tradisionalis, maka katakanlah bahwaaku hanyalah orang Indonesia biasa saja yang bekerja untuk bangsa Indonesia dengan cara Indonesia.
  • "Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah."

Sutan Sjahrir:

  • “Setiap orang Asia yang terpelajar, yang hidup di negeri terbelakang dan memimpikan suatu kemungkinan supaya negerinya memperoleh persamaan yang nyata dengan Barat yang kaya dan modern, pada dasarnya akan berpikir secara sosialis.”
  • “Kita hendak bekerja atas dasar kemerdekaan jiwa orang, atas dasar kerakyatan, atas dasar sukarela, mufakat dan kerjasama, dan tidak dengan paksaan seperti yang telah dilakukan di negeri-negeri totaliter dan diktatur itu.”

Dewi Sartika:

  • “Di samping pendidikan yang baik, perempuan bumiputra harus dibekali pelajaran yang bermutu. Perluasan pengetahuan akan sangat berpe­ngaruh bagi moral kaum perempuan bumiputra. Pengetahuan tersebut hanya diperolehnya dari sekolah.”
  • “Hanya dengan Pendidikan kita akan tumbuh menjadi suatu bangsa.”

Bung Tomo:

  • “Kita tunjukan bahwa kita adalah benar-benar orang yang ingin merdeka, lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka."

Tan Malaka:

  • “Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi.”
  • Kata bijak Tan Malaka lainnya: “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.”

GERIN RIO PRANATA

Baca: Kalimat-kalimat Bijak Jenderal Hoegeng yang Banyak Dikutip Publik






Nama Muntok menjadi Mentok di Bangka Barat Tunggu Hasil Kajian, Tempat Bung Karno dan Bung Hatta Diasingkan

14 jam lalu

Nama Muntok menjadi Mentok di Bangka Barat Tunggu Hasil Kajian, Tempat Bung Karno dan Bung Hatta Diasingkan

Tunggu hasil kajian dari Pansus DPRD Bangka Barat, perubahan nama Muntok jadi Mentok. Ini tempat Bung Karno, Bung Hattam Sutan Sjahrir diasingkan.


Berwisata ke Bukittinggi Berkunjung Selain ke Jam Gadang

4 hari lalu

Berwisata ke Bukittinggi Berkunjung Selain ke Jam Gadang

Bukittinggi salah satu kota wisata populer di Sumatera Barat. Berikut lima destinasi wisatanya, termasuk Jam Gadang dan Museum Bung Hatta.


Penjabat Bupati Lembata Resmikan Patung Anto Enga Tifaona

6 hari lalu

Penjabat Bupati Lembata Resmikan Patung Anto Enga Tifaona

Penjabat Bupati Lembata, Marsianus Jawa mengatakan patung Anto Enga Tifaona ini akan dijadikan ikon warga Kota Loweleba.


Habiskan Dana Rp2 Miliar, Patung Anton Tifaona di Lembata Siap Diresmikan

6 hari lalu

Habiskan Dana Rp2 Miliar, Patung Anton Tifaona di Lembata Siap Diresmikan

Acara peresmian Patung Brigjen Anton Enga Tifaona ini akan dimulai dengan misa Gereja Kristus Raja Lewoleba.


Kekerasan Seksual Masih Marak Di Dunia Pendidikan. LPSK Sebut Perlu Adanya Bersih-Bersih Total

12 hari lalu

Kekerasan Seksual Masih Marak Di Dunia Pendidikan. LPSK Sebut Perlu Adanya Bersih-Bersih Total

Wakil Ketua LPSK Livia Iskandar mengatakan lembaganya mencatat aduan kekerasan seksual di dunia pendidikan masih banyak terjadi.


Binus University dengan Seoul Institute of the Arts Buka Kerja Sama

12 hari lalu

Binus University dengan Seoul Institute of the Arts Buka Kerja Sama

Telah dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Binus University dengan Seoul Institute of the Arts yang menjadi bukti kemitraan kedua negara


Dari Progresivisme hingga Esensialisme, Inilah 4 Aliran Fundamental Filsafat Pendidikan

13 hari lalu

Dari Progresivisme hingga Esensialisme, Inilah 4 Aliran Fundamental Filsafat Pendidikan

Eksistensi filsafat sebagai The Mother of Sciences telah melahirkan berbagai aliran, termasuk dalam hal filsafat pendidikan.


Cerita Rumah Fatmawati 'Tak Mau Dimadu' usai Presiden Sukarno Menikahi Hartini

14 hari lalu

Cerita Rumah Fatmawati 'Tak Mau Dimadu' usai Presiden Sukarno Menikahi Hartini

Rumah di Jalan Sriwijaya Raya Nomor 26, Selong, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, menjadi salah satu saksi kehidupan Fatmawati, sebagai ibu negara.


Bukan Sekadar Biar Pintar, Ini 7 Alasan Kenapa Sekolah itu Penting

15 hari lalu

Bukan Sekadar Biar Pintar, Ini 7 Alasan Kenapa Sekolah itu Penting

Berikut alasan kenapa sekolah itu penting dari segi ilmu dan pembentukan karakter termasuk kecerdasan intelektual (IQ) serta emosional (EQ)


Menaker Beberkan Tantangan Penurunan Pengangguran di Indonesia, Apa Saja?

15 hari lalu

Menaker Beberkan Tantangan Penurunan Pengangguran di Indonesia, Apa Saja?

Ida mengatakan dari 2,8 juta pengangguran yang mengalami hopeless of job itu, sekitar 76,90 persen merupakan pengangguran berpendidikan rendah.