Jangan Lupakan Djiaw Kie Song, Penjual Bambu dalam Peristiwa Rengasdengklok

Reporter

Ahli waris, Liauw Chin Lan menceritakan rumah bersejarah peninggalan keluarga Djiauw Kie Siong yang pernah disinggahi Proklamator RI Soekarno-Hatta di Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat, Sabtu 15 Agustus 2020. Rumah bersejarah tersebut pernah digunakan sebagai tempat persinggahan Soekarno dan M Hatta menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 16 Agustus 1945. Rumah tersebut juga menjadi salah satu destinasi wisata sejarah untuk mengenang dan menghormati proklamator. ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar

TEMPO.CO, Jakarta - Djiaw Kie Song merupakan salah satu sosok penting yang sering terlupakan dalam sejarah perjuangan Bangsa Indonesi. Ia seorang keturunan Tionghoa pemilik sebuah rumah di Dusun Bojong, Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Di rumah tersebut, Sukarno, Hatta, dan para golongan pemuda kala itu menginap untuk menuntut Bung Karno dan Bung Hatta supaya segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa tersebut kemudian dikenal luas sebagai Peristiwa Rengasdengklok.

Dilansir dari p2k.unkris.ac.id, dalam peristiwa Rengasdengklok naskah proklamasi kemerdekaan sedianya akan dibacakan di rumah Djiaw Kie Song pada 16 Agustus 1945. Naskah tersebut telah disusun di rumah itu. Pada 15 Agustus 1945, para pemuda bahkan telah mengibarkan bendera merah putih. Namun, pada Kamis sore, Ahmad Subarjo datang dan mengajak untuk membacakan naskah proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta.

Sebagai seseorang yang memiliki kontribusi dalam perjuangan kemerdekaan, kehidupan Djiaw Kie Song layaknya rakyat biasa. Dilansir dari Majalah Tempo, ia lahir pada 1880 di Desa Pisangsambo, Karawang, Jawa Barat. Tempat kelahirannya ini berada 11 kilometer dari rumah tempat penculikan Sukarno dan Hatta oleh para pemuda. 

Pada usia 8 tahun, Djiaw Koe Song mengikuti orang tuanya menyeberangi Sungai Citarum dan menetap di sebuah lembah bekas aliran sungai. Di tempat ini, Djiaw menghabiskan masa kecilnya dengan berbagai hal. Salah satunya adalah memelihara hewan ternak. Babi adalah salah satu hewan ternak yang dipelihara oleh Djiaw. Tidak hanya itu, kesuburan tanah di lokasi tempat tinggalnya membuat Djiaw menjadi seorang petani ketika dewasa.

Selain beternak dan bertani, Djiaw juga merupakan seorang pedagang. Tanaman bambu yang tumbuh subur di sekitar Sungai Citarum diolah oleh Djiaw menjadi pundi-pundi uang. Ia merendam bambu tersebut ke sungai supaya menjadi awet dan tidak mudah lapuk, lalu menjualnya. Selain menjual bambu, Djiaw juga menjual pasir yang ia tambang di Sungai Citarum. Sungai tersebut benar-benar menjadi sumber penghidupan utamanya kala itu.

Ketelatenan dan sumber penghasilan yang bermacam-macam membuat Djiaw hidup dalam kondisi yang berkecukupan. Setelah usahanya berkembang pesat, Djiaw membangun rumah yang menjadi latar tempat Peristiwa Rengasdengklok pada 1920. Selain rumah tersebut, Djiaw juga membeli beberapa petak tanah lain. Karena itu, Djiaw pun dikenal sebagai seorang tuan tanah di kampungnya.

Meskipun memiliki usaha yang besar dan berkembang pesat, pada akhir hayatnya, Djiaw Kie Song mengalami beberapa kesulitan. Rumahnya yang sempat menjadi tempat singgah para pendiri bangsa digeser sebelum terendam luapan Sungai Citarum setelah Proklamasi Kemerdekaan. Selain itu, meskipun memiliki kontribusi terhadap upaya perjuangan kemerdekaan, Djiaw tidak mendapat perlakuan istimewa dari pemerintah. Saat itu, Djiaw hanya berharap supaya pemerintah tidak mempersulit urusan kependudukan keluarganya.

BANGKIT ADHI WIGUNA

Baca: Kronologi Penculikan Sukarno - Hatta ke Rengasdengklok Sebelum 17 Agustus 1945






Cerita Rumah Fatmawati 'Tak Mau Dimadu' usai Presiden Sukarno Menikahi Hartini

16 hari lalu

Cerita Rumah Fatmawati 'Tak Mau Dimadu' usai Presiden Sukarno Menikahi Hartini

Rumah di Jalan Sriwijaya Raya Nomor 26, Selong, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, menjadi salah satu saksi kehidupan Fatmawati, sebagai ibu negara.


Erick Thohir dan Megawati ke Sanur Perkuat Ikon Pariwisata Bali

19 hari lalu

Erick Thohir dan Megawati ke Sanur Perkuat Ikon Pariwisata Bali

Megawati Soekarno Putri dan Erick Thohir meninjau warisan Presiden Soekarno untuk memperkuat ikon pariwisata Bali


Junta Myanmar Rayakan 75 Tahun Kemerdekaan, 7 Ribu Tahanan Dibebaskan

31 hari lalu

Junta Myanmar Rayakan 75 Tahun Kemerdekaan, 7 Ribu Tahanan Dibebaskan

Myanmar, negara asia tenggara yang masih berkecamuk di bawah kekuasaan junta militer merayakan 75 tahun kemerdekaan.


Guntur Bersyukur Presiden Jokowi Bersihkan Nama Soekarno dari G30S

7 November 2022

Guntur Bersyukur Presiden Jokowi Bersihkan Nama Soekarno dari G30S

Menurut Guntur, dengan adanya pernyataan Jokowi maka proses de-Soekarnoisasi atau upaya melemahkan pengaruh Soekarno ke rakyat dapat diredam


KMB Berakhir Pada 2 November, Apa Dampaknya Untuk Keamanan Indonesia?

2 November 2022

KMB Berakhir Pada 2 November, Apa Dampaknya Untuk Keamanan Indonesia?

Salah satu keputusan dari KMB adalah memfokuskan reorganisasi angkatan perang. Dengan demikian terbnetuklah APRIS yang diambil dari jajaran angakatan KNIL.


Filep Karma Aktivis Kemerdekaan Papua Dikabarkan Meninggal

1 November 2022

Filep Karma Aktivis Kemerdekaan Papua Dikabarkan Meninggal

Filep Karma seorang aktivis kemerdekaan Papua, Selasa pagi 1 November 2022 sekitar pukul 07.00 WIT ditemukan warga meninggal di Pantai Bse


Johnny G. Plate Ungkap RI Sudah Melalui 3 Fase Kedaulatan: Saat Ini Kedaulatan Digital

26 Oktober 2022

Johnny G. Plate Ungkap RI Sudah Melalui 3 Fase Kedaulatan: Saat Ini Kedaulatan Digital

Johnny G. Plate mengatakan fase pertama RI adalah kedaulatan administratif politik melalui Proklamasi Kemerdekaan Indonesia


Pemeran Film Pengkhianatan G30S/PKI: Amoroso Katamsi, Umar Kayam, Syu'bah Asa, Ade Irawan hingga Wawan Wanisar

30 September 2022

Pemeran Film Pengkhianatan G30S/PKI: Amoroso Katamsi, Umar Kayam, Syu'bah Asa, Ade Irawan hingga Wawan Wanisar

Film Pengkhianatan G30S/PKI mulai tayang 1984, dengan biaya produksi Rp 800 juta kala itu. Pemeran film 270 menit ini dari aktor, sastrawan, budayawan


Menjelang G30S: Jenderal Ahmad Yani Tak Setuju Angkatan Kelima Bentukan Sukarno Usulan PKI

24 September 2022

Menjelang G30S: Jenderal Ahmad Yani Tak Setuju Angkatan Kelima Bentukan Sukarno Usulan PKI

Menjelang 1 Oktober 1965, Ahmad Yani dan beberapa jenderal tak setuju pembentukan angkatan kelima Sukarno dan PKI, yaitu buruh dan tani bersenjata.


Anies Baswedan Temui Omar Baobed di Singapura dan Kisah Dokumen Pengakuan Kemerdekaan RI

18 September 2022

Anies Baswedan Temui Omar Baobed di Singapura dan Kisah Dokumen Pengakuan Kemerdekaan RI

Anies Baswedan menyempatkan bertemu dengan Omar Baobed dalam kunjungannya ke Singapura. Cerita tentang dokumen pengakuan kemerdekaan RI.