Novel Baswedan: Misi Utama 57 Pegawai Menjaga KPK dari Upaya Pelemahan

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyidik KPK Novel Baswedan (tengah) dan sejumlah perwakilan pegawai  yang tak lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) memberikan keterangan kepada wartawan usai menjalani pemeriksaan di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Selasa 8 Juni 2021. Novel bersama sejumlah perwakilan pegawai KPK yang tak lolos TWK kembali mendatangi Komnas HAM untuk menyerahkan tambahan informasi dan dokumen terkait laporan dugaan pelanggaran HAM dalam proses TWK. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

    Penyidik KPK Novel Baswedan (tengah) dan sejumlah perwakilan pegawai yang tak lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) memberikan keterangan kepada wartawan usai menjalani pemeriksaan di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Selasa 8 Juni 2021. Novel bersama sejumlah perwakilan pegawai KPK yang tak lolos TWK kembali mendatangi Komnas HAM untuk menyerahkan tambahan informasi dan dokumen terkait laporan dugaan pelanggaran HAM dalam proses TWK. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

    TEMPO.CO, Jakarta - Penyidik senior nonaktif Komisi Pemberantasan Korupsi Novel Baswedan mengatakan 57 pegawai yang tidak lolos tes wawasan kebangsaan akan terus berjuang menjaga KPK dari upaya pelemahan yang dilakukan pihak tertentu, termasuk oleh Pimpinan KPK sendiri.

    “Misi utama kawan2 yg 57 adl menjaga KPK dari pelemahan yg dilakukan oleh org2, termasuk Pimpinan KPK. Iya, pimpinan KPK,” kata Novel lewat akun Twitternya, Sabtu, 14 Agustus 2021.

    Novel mengatakan kejadian tersebut memang miris, karena justru pimpinan sendiri yang mau menghancurkan KPK. Dia mengatakan dugaan pimpinan yang ingin menghancurkan KPK bisa terlihat dari perbuatan. “Dengan sejumlah perbuatan nekat dan persekongkolan penyingkiran 75 pegawai,” kata dia.

    Sebelumnya, 57 pegawai KPK meraih Tasrif Award 2021. Bersama komunitas LaporCovid-19, 57 pegawai itu diberi penghargaan karena keberanian mereka menyatakan pendapat dianggap mencerminkan semangat dari tokoh jurnalis, Suardi Tasrif.

    Anggota Dewan Juri, Nurina Savitri mengatakan 57 pegawai yang tak lolos dan melakukan perlawanan itu dianggap sudah mewakili semangat Tasrif dalam memperjuangkan kemerdekaan berpendapat. Mereka juga mengungkap problem ketidakadilan atas isu hak asasi manusia, seperti diskriminasi agama, keyakinan dan gender.

    Tasrif Award merupakan penghargaan tahunan yang diberikan oleh AJI dalam setiap tahunnya. Nama penghargaan tersebut diambil dari nama Suwardi Tasrif. Dilansir dari aji.or.id, Suwardi Tasrif merupakan seorang pengacara sekaligus jurnalis besar di Indonesia yang lahir pada 3 Juni 1922 di Jawa Barat.

    Ia terkenal atas kegigihannya dalam memperjuangkan kemerdekaan berpendapat dan hak konstitusional yang selalu disebut-sebut sebagai hak fundamental yang menjadi jalan bagi dipenuhinya berbagai hak asasi manusia lainnya. Karena dedikasinya tersebut, ia kemudian dikenal sebagai Bapak Kode Etik Jurnalistik Indonesia.

    Penghargaan Tasrif Award diberikan kepada perorangan maupun kelompok yang gigih dalam memperjuangkan kebebasan pers dan kebebasan berekspresi. AJI mulai memberikan penghargaan ini pada 1998. Pada waktu itu, Munir Said Thalib, Koordinator Badan Pekerja Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), menjadi penerima Tasrif Award yang pertama.

    Baca juga: Tanggapi Pernyataan BKN, Pegawai KPK Singgung Lagi Omongan Jokowi Soal TWK


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.