KH Muhyidin, Pejuang Kemerdekaan Asal Subang

Reporter:
Editor:

Ahmad Faiz Ibnu Sani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • KH Muhyiddin. Foto/Istimewa

    KH Muhyiddin. Foto/Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Kabupaten Subang, Jawa Barat, memiliki satu sosok pejuang kemerdekaan yang ternama. Dia adalah Muhyidin atau KH Muhyidin, pendiri Pondok Pesantren Pagelaran, Kecamatan Cisalak.

    Muhyidin lahir pada 1879 dan wafat 94 tahun kemudian. Dia adalah kakek dari Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil atau Emil.

    Muhyidin merupakan salah satu pahlawan nasional. Namun masih banyak orang yang belum mengenal sosoknya, terlebih mereka yang bukan penduduk Subang.

    Mengutip dari situs resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat, referensi mengenai Muhyidin masih terbilang minim. Terlebih ia jarang bercerita tentang masa perang kemerdekaan kepada anak dan cucunya. Alhasil, sejarah kepahlawanannya sulit ditelusuri.

    “Perjuangan yang dilakukan KH Muhyidin adalalah bentuk keikhlasan dan tidak berharap penghargaan,” kata Banin Muhyidin, seorang kerabat Muhyidin dikutip dari jabarprov.go.id, Kamis, 12 Agustus 2021.

    Di kalangan sejarawan Jawa Barat, sosok KH Muhyidin cukup dikenal. Pasalnya, ia adalah salah satu pemimpin yang ikut serta melakukan penyerangan kepada sekutu di Bandung Utara pada masa penjajahan.

    Muhyidin diketahui bergabung dengan organisasi Hizbullah. Ia menjadikan Pagelaran I (Tanjung Siang) sebagai markas pelatihan dan penggemblengan mental bagi para pejuang.

    Bentuk perjuangan KH Muhyidin lainnya adalah ketika tentara Nederlands Indie Civil Administration (NICA) datang ke tanah air pada 1946, yang berniat merebut kembali NKRI. Dengan semangat nasionalismenya, KH Muhyidin memimpin langsung pertempuran melawan pasukan NICA di Jawa Barat, khususnya di daerah Ciater, Isola, dan Cijawura.

    Ridwan Kamil, yang merupakan salah satu cucu terdekat KH Muhyidin, menceritakan petuah-petuah sang kakek. “Petuah beliau, harus ikhlas apa pun dengan yang terjadi dan selalu menghindari konflik. Inilah yang terus saya pegang dalam hidup saya,” ucap dia.

    Menurut Banin Muhyidin, sejarah singkat mengenai KH Muhyidin sudah dituangkan dalam buku yang ditulis Yayasan Masyarakat Sejarah Indonesia. Buku itu berisi kelahiran di Garut hingga wafat di Pagelaran Subang.

    M. RIZQI AKBAR

    Baca juga: AR Baswedan, Tokoh Keturunan Arab yang Berjuang untuk Kemerdekaan RI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.