Lonjakan Kasus Kematian, Kemenkes Sebut Akibat Keterbatasan Tenaga Input Data

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan, Widyawati (kanan) saat membuka acara sosialisasi Saluran Informsi, Aspirasi dan Pengaduan (SIAP) Kemenkes dan Bimtek sistem aplikasi SP4N-LAPOR! di Jakarta.

    Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan, Widyawati (kanan) saat membuka acara sosialisasi Saluran Informsi, Aspirasi dan Pengaduan (SIAP) Kemenkes dan Bimtek sistem aplikasi SP4N-LAPOR! di Jakarta.

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Kesehatan mengungkap keterbatasan tenaga kesehatan pengimput data berimbas data menumpuk tidak real time dan terlihat ada lonjakan kasus kematian dalam tiga pekan terakhir.  

    “Jadi, lonjakan-lonjakan anomali angka kematian seperti ini akan tetap kita lihat setidaknya selama dua minggu ke depan," ujar Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Widyawati dalam keterangan tertulis, Rabu, 11 Agustus 2021.

    Tenaga Ahli Kemenkes, Panji Fortuna Hadisoemarto mengatakan berdasarkan analisis data National All Record (NAR) Kemenkes, laporan kasus Covid-19 per 10 Agustus misalnya, dari 2.048 kematian yang dilaporkan, sebagian besar bukanlah angka kematian pada tanggal tersebut atau pada seminggu sebelumnya.

    "Bahkan 10,7 persen diantaranya berasal dari kasus pasien positif yang sudah tercatat di NAR lebih dari 21 hari namun baru terkonfirmasi dan dilaporkan bahwa pasien telah meninggal," ujarnya.

    Ia mencontohkan, laporan dari Kota Bekasi per 10 Agustus, dari 397 angka kematian yang dilaporkan, 94 persen di antaranya bukan merupakan angka kematian pada hari tersebut.

    "Melainkan rapelan angka kematian dari Juli sebanyak 57 persen dan Juni serta bulan sebelumnya sebanyak 37 persen. Lalu 6 persen sisanya merupakan rekapitulasi kematian di minggu pertama Agustus,” ujar Panji.

    Hal serupa terjadi di Kalimantan Tengah, dimana 61 persen dari 70 angka kematian yang dilaporkan kemarin adalah kasus aktif yang sudah lebih dari 21 hari namun baru diperbaharui statusnya.

    Selain masalah pada data kematian, Panji menuturkan masalah juga terjadi pada kasus aktif. Lebih dari 50 ribu kasus Covid-19 aktif yang saat ini adalah kasus yang sudah lebih dari 21 hari tercatat namun belum dilakukan pembaharuannya.

    Baca: Kematian Covid-19 per 10 Agustus 2.048 Orang, Jawa Barat Penyumbang Terbanyak


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.