Ini Makna Sesajen Pada Tradisi Sedekah Gunung 1 Muharram

Reporter:
Editor:

Ahmad Faiz Ibnu Sani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga lereng Merapi mengikuti kirab tradisi Sedekah Gunung Merapi 1 Suro, di Desa Lencoh, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, 13 Oktober 2015, malam. Tradisi turun temurun yang dilakukan setiap pada Tahun Baru Jawa 1 Suro tersebut bertujuan untuk memohon keselamatan, pertolongan dan perlindungan kepada Tuhan dari segala mara bahaya bencana. ANTARA FOTO

    Warga lereng Merapi mengikuti kirab tradisi Sedekah Gunung Merapi 1 Suro, di Desa Lencoh, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, 13 Oktober 2015, malam. Tradisi turun temurun yang dilakukan setiap pada Tahun Baru Jawa 1 Suro tersebut bertujuan untuk memohon keselamatan, pertolongan dan perlindungan kepada Tuhan dari segala mara bahaya bencana. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Setiap 1 Muharram masyarakat di Desa Lencoh, Kabupaten Boyolali, yang berada di lereng Gunung Merapi melakukan tradisi sedekah gunung. Mereka melarung kepala kerbau dan sesajen lainnya di puncak gunung.

    Mengutip Jurnal Analisa Sosiologi Universitas Negeri Sebelas Maret pada Oktober 2016 yang bertajuk “Peran Sentral Figur Tokoh Adat dalam Upacara Sedekah Gunung di Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali”, sesajen yang harus ada dalam peringatan 1 Muharram ini adalah nasi gunung (tumpeng) sebanyak sembilan buah, palawija, dua jenis rokok dengan jenis dan merek yang sudah ditentukan, tukon pasar dan gedhang setangkeb,  jadah bakar, serta sesajen lain yang berjumlah sepasang atau dua buah.

    Dilansir dari Jurnal Sastra Jawa berjudul “Istilah-Istilah Sesaji Ritual Sedekah Gunung Merapi di Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali (Kajian Etnolinguistik)”, setiap sesajen yang dibutuhkan memiliki filosofi dan artinya masing-masing. Seperti pada tumpeng yang mencerminkan keadaan masyarakat di Desa Lencoh. Masyarakat yang memiliki kerukunan yang kuat dan kokoh serta berjalan seirama, sehingga tidak terjadi perselisihan maupun penyimpangan yang terjadi antar masyarakat di Desa Lencoh.

    Hiasan yang melekat pada tumpeng menyimbolkan kelestarian gunung yang terjaga dan jauh dari kegundulan. Jumlah tumpeng sebanyak sembilan menggambarkan Wali Songo, para wali yang menyebarkan agama Islam di Indonesia khususnya di tanah Jawa.

    Tukon pasar yang berarti jajanan pasar atau hasil bumi merupakan salah satu sesaji dalam ritual ini yang memiliki pesan keberagaman hidup manusia. Tukon pasar ini diletakkan di atas gedhang setangkeb, yakni dua sisir pisang yang ditata sedemikian rupa hingga membentuk lingkaran. Gedhang setangkeb ini menggambarkan kesatuan dari keberagaman yang tidak terpisah.

    Sementara jadah bakar, atau uli bakar, memiliki pesan berupa harapan agar masyarakat tidak membakar gunung demi menjaga kelestarian Gunung Merapi. Sesajen ini disiapkan sepasang (sejodo) atau dua buah, untuk melambangkan jenis kelamin, yaitu perempuan dan laki-laki. Penggambaran ini sejalan dengan anggapan masyarakat Desa Lencoh bahwa Gunung Merapi merupakan sosok laki-laki dan Gunung Merbabu merupakan sosok perempuan.

    Kemudian, rokok jenis dan merek tertentu ini dipilih dengan rokok paling tua atau yang paling awal dikenal oleh masyarakat. Rokok ini sebagai sebuah bentuk penghormatan kepada para leluhur. Rokok yang biasa dijadikan sesajen pada Sedekah Gunung Merapi setiap 1 Muharram adalah rokok klobot dan rokok linting karena paling sering dikonsumsi leluhur.

    JACINDA NUURUN ADDUNYAA

    Baca juga: Mengenal Tradisi Sedekah Gunung Warga Lereng Merapi Tiap 1 Muharram


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    OTT Bupati Kolaka Timur, Simak Fakta Penangkapan dan Profil Andi Merya

    Bupati Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, Andi Merya Nur, ditangkap KPK dalam OTT. Ia diduga menerima suap yang berhubungan dengan dana hibah BNPB.