Popularitas Puan Maharani Naik karena Baliho, Meski Banyak Sentimen Negatif

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Spanduk Puan Maharani

    Spanduk Puan Maharani "Kepak Sayap Kebhinekaan". Foto/twitter

    TEMPO.CO, Jakarta - Hasil analisis Drone Emprit ihwal perbincangan di media sosial mencatat bahwa popularitas Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Puan Maharani meningkat lantaran balihonya banyak dikritik oleh warganet. Pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, mengatakan dalam satu bulan terakhir popularitas Puan meningkat kendati banyak berupa sentimen negatif.

    "Tren dalam satu bulan terakhir, popularitas Puan meningkat meski banyak sentimen negatif (sindiran)," kata Ismail dalam cuitan di akun Twitternya, Ahad, 8 Agustus 2021. Dihubungi lewat telepon, Ismail mengizinkan cuitannya dikutip dan memberikan beberapa penjelasan tambahan.

    Pada 8 Juli lalu, jumlah perbincangan tentang Puan di media sosial di bawah 2.500. Namun sejak awal Agustus, jumlah perbincangan yang menyebut Puan meningkat hingga hampir menyentuh 5.000 mentions pada Sabtu, 7 Agustus kemarin.

    Ismail mengatakan sentimen negatif itu juga berasal dari berbagai pihak, bukan hanya dari kelompok yang beroposisi dengan Puan. Misalnya dari pekerja seni Ernest Prakasa dan aktivis Ravio Patra.

    Keduanya sebenarnya menyoroti baliho Puan dan Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto. Namun menurut Ismail, Drone Emprit belum menganalisis tren popularitas Airlangga lantaran perbincangannya belum terlalu banyak.

    Meski sentimen tentang Puan banyak yang bernada negatif, Ismail melanjutkan, perbincangan yang berkembang menaikkan keterkenalan politikus PDI Perjuangan itu. Ia mengatakan tren Puan bahkan mengejar tren popularitas rekan separtainya, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

    Jika melihat tren popularitas empat tokoh dalam sebulan terakhir, Drone Emprit mencatat tokoh dengan tren popularitas tertinggi ialah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Di posisi berikutnya ada Ganjar Pranowo, diikuti Ridwan Kamil dan Puan.

    Dilihat dari share of voices dalam periode yang sama, perbincangan tentang Anies sebanyak 49 persen, Ganjar 27 persen, Ridwan Kamil 13 persen, dan Puan 12 persen. Ismail mengatakan, Anies dan Ganjar diuntungkan oleh percakapan warganet di media sosial baik pro maupun kontra, sedangkan Ridwan Kamil diuntungkan oleh pemberitaan media.

    "Tren Puan awalnya paling rendah, perlahan naik setara RK, lalu mengejar Ganjar," ujar Ismail.

    Ismail menjelaskan, popularitas merupakan gabungan percakapan yang bernada positif, negatif, dan netral. Menurut dia, tren popularitas ini diharapkan akan meningkatkan favorabilitasnya, yakni sentimen positif dikurangi sentimen negatif, lalu dikapitalisasi menjadi elektabilitas.

    "Makanya ketika ada baliho Puan, ini kan negatif, tapi akan membuat orang jadi kenal Puan, secara popularitas naik," ujarnya.

    Meski begitu, Ismail mengatakan popularitas saja tak cukup, apalagi populer lantaran hal negatif dan tak ada positifnya. Dia mengatakan perlu ada bukti kerja dan prestasi yang bisa digunakan untuk menaikkan tren positif.

    Belakangan ini, baliho Puan Maharani memang mulai ramai bertebaran di sejumlah daerah. Di media sosial, baliho Puan yang salah satunya bertuliskan "Kepak Sayap Kebhinekaan" itu banyak diperbincangkan warganet. Beberapa bahkan membuat meme dari baliho tersebut.

    Sebelumnya, politikus PDIP Hendrawan Supratikno mengatakan partainya mencermati dengan seksama respons publik di media sosial terhadap baliho Puan. Menurut dia, ada dua kategori pemberi respons, yakni yang konsisten berseberangan dengan pihaknya dan yang sekadar iseng. "Yang positif kami terima sebagai masukan, yang negatif dan nyinyir kami yakin disaring oleh filter literasi pembaca dan masyarakat," kata Hendrawan pada Rabu, 28 Juli lalu.

    BUDIARTI UTAMI PUTRI

    Baca: Baliho Puan, Airlangga, Muhaimin, AHY: Sudah Ikuti Aturan Pemasangan Baliho?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pelonggaran Kembali PPKM: Aturan Baru WFO, Bioskop, dan Anak-anak

    Pemerintah kembali melonggarkan sejumlah aturan PPKM yang berlaku hingga 4 Oktober 2021. Pelonggaran termasuk WFO, bioskop, dan anak-anak di mall.