HUT AJI ke-27, Asal Mula Nama Aliansi Jurnalis Independen

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah jurnalis yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI) membentangkan spanduk dan poster saat menggelar aksi jalan mundur dalam car free day di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Ahad, 29 September 2019. Dalam aksinya, mereka menuntut pencabutan status tersangka Dandhy Dwi Laksono. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Sejumlah jurnalis yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI) membentangkan spanduk dan poster saat menggelar aksi jalan mundur dalam car free day di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Ahad, 29 September 2019. Dalam aksinya, mereka menuntut pencabutan status tersangka Dandhy Dwi Laksono. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) lahir sebagai bentuk perlawanan komunitas pers Indonesia terhadap kesewenang-wenangan rezim Orde Baru. Pada 7 Agustus 1994, sejumlah jurnalis dan aktivis melakukan Deklarasi Sirnagalih di Bogor.

    Deklarasi Sirnagalih merupakan pernyataan yang ditandatangani 58 wartawan dan kolumnis era Orde Baru di Desa Sirnagalih, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Inti deklarasi ini adalah menuntut dipenuhinya hak masyarakat atas informasi, menentang pengekangan pers, menolak wadah tunggal untuk para wartawan.

    Deklarasi ini pun sekaligus mengumumkan didirikannya Aliansi Jurnalis Independen, yang sebelumnya berjalan secara tertutup.

    Dalam diskusi 6 Agustus malam di Sirnagalih, tampak bahwa gagasan para perserta sangat beragam. Dalam diskusi pleno itu, mengemuka pendapat bahwa pembentukan forum komunikasi, paguyuban, atau bentuk apapun di luar organisasi profesi.

    Pada masa itu, ada organisasi perkumpulan wartawan, yakni Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Namun, PWI saat itu dikooptasi penguasa adalah organisasi profesi jurnalis. Maka, menurut peserta tandingan yang tepatuntuk PWI harus berbentuk organisasi profesi jurnalis, tetapi dengan sifat yang independen terhadap pemerintah.

    Forum akhirnya sepakat membentuk organisasi profesi jurnalis. Menurut Salomo Simanungkalit, yang ikut menandatangani Deklarasi Sirnagalih, nama AJI itu sudah dipertimbangkan dan disebut oleh Dhia Prekasha Yoedha, dalam perjalanan menuju Sirnagalih.

    Nama AJI itu terkesan bagus, singkat, mudah disebut, mudah diingat, dan punya makna positif. 

    Dalam mitologi Jawa, Aji berarti suatu ilmu atau kesaktian tertentu. Sedangkan, sebutan “Aliansi” diusulkan Stanley Adi Prasetyo. Dasar pemikirannya, ialah untuk menghormati dan mengakui keberadaan komunitas-komunitas jurnalis, yang sudah lebih dulu ada di berbagai kota.

    Sebab, menurut Stanley, komunitas-komunitas di kota itulah yang mengirim delegasi ke Deklarasi Sirnagalih itu. Kemudian berbagai usulan yang ada di forum dirangkum. Forum pun setuju penggunaan istilah “Aliansi” dengan pertimbangan yang disampaikan oleh Stanley.

    Istilah “Jurnalis” pun disepakati, karena istilah itu dianggap lebih sesuai dengan kata asalnya dalam bahasa Inggris, yakni journalist. Selain itu, untuk membedakannya dengan PWI yang sudah menggunakan “wartawan”

    Lalu, istilah “Independen” digunakan untuk mempertebal perbedaan Aliansi Jurnalis Independen atau AJI dengan PWI. AJI itu independen dan tidak ingin mengklaim mewakili Indonesia. Berbeda dengan PWI yang dianggap saat itu tidak independen, tetapi mengklaim mewakili Indonesia.

    M. RIZQI AKBAR 

    Baca: 27 Tahun Aliansi Jurnalis Independen Mengusung Kebebasan Pers


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.