27 Tahun Aliansi Jurnalis Independen Mengusung Kebebasan Pers

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menggelar aksi saat peringatan Hari Buruh Internasional 2019 (May Day) di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Rabu, 1 Mei 2019. Dalam aksi peringatan May Day 2019 ini AJI menuntut kesejahteraan untuk seluruh jurnalis di Indonesia dan mengingatkan kasus persekusi dan PHK sepihak yang menghantui jurnalis Indonesia. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menggelar aksi saat peringatan Hari Buruh Internasional 2019 (May Day) di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Rabu, 1 Mei 2019. Dalam aksi peringatan May Day 2019 ini AJI menuntut kesejahteraan untuk seluruh jurnalis di Indonesia dan mengingatkan kasus persekusi dan PHK sepihak yang menghantui jurnalis Indonesia. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Hari ini, pada 7 Agustus 1994, sejumlah penulis dan wartawan muda berkumpul di Sirnagalih, Bogor untuk mendeklarasikan berdirinya Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Pada deklarasi itu, mereka menuntut dipenuhinya hak publik atas informasi, menentang pengekangan pers, dan menolak wadah tunggal untuk jurnalis.

    Deklarasi tersebut lahir sebagai bentuk perlawanan komunitas pers Indonesia terhadap rezim Orde Baru. Sebelumnya, pada 21 Juni 1994, beberapa media dibredel, yakni Detik, Editor, dan Tempo. Ketiganya dibredel karena pemberitaannya yang tergolong kritis terhadap penguasa. 

    Tindakan represif itulah yang memicu aksi solidaritas sekaligus dari berbagai kalangan secara merata di sejumlah kota. 

    Pada masa Orde Baru, AJI masuk dalam daftar organisasi terlarang. Kegiatan organisasi ini pun dijalankan di bawah tanah. Melansir dari laman aji.or.id, roda organisasi ini dijalankan oleh puluhan jurnalis-aktivis.

    Untuk menghindari tekanan aparat keamanan, sistem manajemen organisasi diselenggarakan secara tertutup. Sistem semacam itu cukup efektif untuk menjalankan misi organisasi kala itu, apalagi AJI hanya memiliki anggota kurang dari 200 jurnalis. 

    AJI dibidani oleh individu dan aktivis dari Forum Wartawan Independen (FOWI) Bandung, Forum Diskusi Wartawan Yogyakarta (FDWY), Surabaya Press Club (SPC), dan Solidaritas Jurnalis Independen (SJI) Jakarta. 

    Selain demonstrasi dan mengecam tindakan represif terhadap media, AJI juga menerbitkan majalah alternatif Independen, yang kemudian dikenal sebagai Suara Independen. 

    Konsistensi perjuangan AJI menempatkannya dalam barisan kelompok yang mendorong demokratisasi dan menentang otoritarianisme. Hal ini membuahkan pengakuan dari elemen gerakan pro demokrasi di Indonesia, sehingga AJI dikenal sebagai pembela kebebasan pers dan berekspresi.

    Pada 18 Oktober 1995, Aliansi Jurnalis Independen atau AJI secara resmi menjadi anggota International Federation of Journalist (IFJ), organisasi jurnalis paling berpengaruh di dunia. Selain itu,  cukup banyak organisasi asing yang mendukung aktivitas AJI di Indonesia. Termasuk badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berkantor di Indonesia.

    M. RIZQI AKBAR 

    Baca: AJI Kecam Penghalangan Liputan VOA Indonesia oleh Pengelola Wisma Atlet


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.