Epidemiolog Minta Setop Distribusi Obat Terapi Covid-19 ke Pasien Isoman

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja menyortir obat Covid-19 di gerai ekspedisi pengiriman barang Sicepat di Jalan K.S Tubun, Petamburan, Jakarta, Sabtu, 17 Juli 2021. Pemerintah Pusat resmi membagikan sebanyak 300.000 paket obat gratis berupa multivitamin, Azithtromycin, dan Oseltamivir bagi pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri di Pulau Jawa dan Bali. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Pekerja menyortir obat Covid-19 di gerai ekspedisi pengiriman barang Sicepat di Jalan K.S Tubun, Petamburan, Jakarta, Sabtu, 17 Juli 2021. Pemerintah Pusat resmi membagikan sebanyak 300.000 paket obat gratis berupa multivitamin, Azithtromycin, dan Oseltamivir bagi pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri di Pulau Jawa dan Bali. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Epidemiolog Universitas Indonesia, Pandu Riono, meminta pemerintah meninjau ulang distribusi paket obat terapi Covid-19 kepada pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri atau isoman di rumah. “Saya usul hentikan distribusi obat ke masyarakat. Sebaiknya hanya di layanan kesehatan saja,” kata Pandu kepada Tempo, Jumat, 30 Juli 2021.

    Permintaan tersebut pertama kali disampaikan Pandu di akun Twitternya, @drpriono1. Ia mengunggah foto paket obat isolasi mandiri dari Kementerian Kesehatan. Ada 3 jenis obat dan 1 suplemen makanan. Ketiga jenis obat itu adalah paracetamol, Azithromycin, dan Oseltamivir.

    Pandu menjelaskan obat keras seperti Oseltamivir berpotensi menimbulkan efek samping pada tiap orang. Obat tersebut merupakan antivirus yang bisa menyebabkan mual, muntah.

    Efek samping lainnya, kata Pandu, adalah keinginan untuk bunuh diri karena adanya gangguan psikis, seperti delirium, meracau, bingung, keinginan menyakiti diri sendiri. Efek samping tersebut juga dilaporkan terjadi di negara lain. “Banyak dilaporkan di Jepang,” ujarnya.

    Selain Oseltamivir, Pandu menilai pemberian Azithromycin juga tidak bermanfaat bagi pasien Covid-19. Pasalnya, Azithromycin merupakan antibiotik untuk penyakit yang terindikasi infeksi bakteri. Sementara Covid-19 disebabkan oleh virus.

    Pandu Riono mengusulkan agar pemberian obat keras sebaiknya dilakukan bila dirawat. Sehingga, pemakaiannya dapat diawasi. “Bila tidak cocok atau ada efek samping bisa segera dihentikan. Kalau didistribusi ke masyarakat, siapa yang mengawasi?” ujarnya ihwal obat terapi Covid-19.

    Baca juga: Mengenal Obat yang Dicari Jokowi, Oseltamivir itu Untuk Apa?

    FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.