Diperingati Setiap 29 Juli, Ini Sejarah Hari Bhakti TNI AU

Reporter:
Editor:

Ahmad Faiz Ibnu Sani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah penerjun dari Korps Pasukan Khas TNI AU menjalani latihan terjun payung di Lanud El Tari Kupang, NTT, Jumat 19 Februari 2021. Latihan terjun payung yang diikuti 24 personel Korps Paskhas itu bertujuan untuk meyakinkan bahwa pihaknya siap untuk mengamankan wilayah NTT yang berbatasan dengan Timor Leste dan Australia. ANTARA FOTO/Kornelis Kaha

    Sejumlah penerjun dari Korps Pasukan Khas TNI AU menjalani latihan terjun payung di Lanud El Tari Kupang, NTT, Jumat 19 Februari 2021. Latihan terjun payung yang diikuti 24 personel Korps Paskhas itu bertujuan untuk meyakinkan bahwa pihaknya siap untuk mengamankan wilayah NTT yang berbatasan dengan Timor Leste dan Australia. ANTARA FOTO/Kornelis Kaha

    TEMPO.CO, Jakarta - Setiap tahunnya, tanggal 29 Juli diperingati sebagai Hari Bhakti Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU).  Peringatan ini dilatarbelakangi oleh serangan udara di tiga daerah dan wafatnya tiga pelopor TNI AU pada 74 tahun yang lalu.

    Melansir dari laman resmi TNI AU, Kamis, 29 Juli 2021, peristiwa heroik tersebut bermula ketika Belanda mengingkari perjanjian Linggarjati. Belanda memutus hubungan diplomatik secara sepihak dan melakukan serangan militer ke berbagai wilayah Indonesia, termasuk ke beberapa pangkalan udara di Pulau Jawa dan di Bukittinggi, Sumatera Barat. Serangan ini berlangsung pada 21 Juli 1947 dan dikenal sebagai Agresi Belanda I.

    Serangan Belanda menjadi tamparan menyakitkan bagi TNI AU yang kala itu baru saja tumbuh. Pada 28 Juli 1947, Kepala Staf TNI Angkatan Udara Komodor Suryadi Suryadarma dan Komodor Muda Halim Perdanakusuma memanggil empat kadet penerbang guna merencanakan operasi rahasia untuk menyerang kedudukan Belanda. Empat kadet penerbang tersebut diantaranya Suharnoko Harbani, Sutardjo Sigit, Mulyono dan Bambang Saptoadji. Meskipun operasi rahasia itu bersifat sukarela, keempatnya tidak mundur dan justru merasa terhormat.

    Pada pagi hari 29 Juli 1947, operasi rahasia TNI AU dilaksanakan. Kadet Penerbang Sutardjo Sigit dan Suharnoko Harbani bertugas melancarkan serangan ke Salatiga dan Ambarawa. Kadet Penerbang Mulyono diperintahkan menyerang Semarang. Sementara Kadet Penerbang Bambang Saptoadji yang mulanya diperintahkan untuk mengawal pesawat yang diawaki Kadet Penerbang Mulyono harus batal berangkat karena pesawatnya belum selesai diperbaiki.

    Serangan ke tiga kota akhirnya berhasil dan para Kadet Penerbang kembali dengan selamat di Pangkalan Udara Maguwo. Serangan ini tidak hanya menurunkan mental kubu Belanda, tetapi juga meningkatkan semangat juang bangsa dan menjadikan kedaulatan Negara Republik Indonesia diakui dunia.

    Pada sore hari 29 Juli 1947, Belanda meluncurkan serangan balasan. Pesawat Dakota VT-CLA yang membawa sumbangan obat-obatan dari Palang Merah Malaya untuk Palang Merah Indonesia ditembaki saat hendak mendarat di Pangkalan Udara Maguwo. Akibatnya, pesawat oleng dan jatuh di Desa Ngoto, 3 kilometer sebelah selatan Yogyakarta. Musibah ini menewaskan tiga tokoh perintis TNI AU, yakni Komodor Muda Adisucipto, Komodor Muda Abdulrachman Saleh dan Opsir Muda Adisumarmo.

    Jatuhnya pesawat dan gugurnya tiga tokoh TNI AU kala itu meninggalkan duka yang amat mendalam. Guna mengenang ketiganya, mulai tahun 1955, tanggal 29 Juli ditetapkan sebagai Hari Berkabung. Namanya kemudian diubah menjadi Hari Bhakti TNI AU pada 1962 dan terus diperingati hingga saat ini.

    SITI NUR RAHMAWATI

    Baca juga:

    Usai Kasus TNI AU, Polisi Diduga Lakukan Pemukulan pada Warga Nabire Papua


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.