Satgas Gandeng Tokoh Agama untuk Cegah Warga Bantu Kelompok Teroris MIT

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anggota polisi berjaga di sekitar perkampungan warga yang menjadi lokasi penyerangan yang diduga dilakukan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora, di Dusun Lewonu, Desa Lemban Tongoa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Selasa, 1 Desember 2020. Kebanyakan warga Desa Lembantongoa masih takut beraktivitas di kebun pasca serangan diduga teroris MIT yang menewaskan empat warga transmigrasi di wilayah itu pada Jumat (27/11). ANTARA/Rahman

    Seorang anggota polisi berjaga di sekitar perkampungan warga yang menjadi lokasi penyerangan yang diduga dilakukan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora, di Dusun Lewonu, Desa Lemban Tongoa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Selasa, 1 Desember 2020. Kebanyakan warga Desa Lembantongoa masih takut beraktivitas di kebun pasca serangan diduga teroris MIT yang menewaskan empat warga transmigrasi di wilayah itu pada Jumat (27/11). ANTARA/Rahman

    TEMPO.CO, Jakarta - Satuan Tugas Madago Raya menggandeng tokoh agama di sekitar wilayah operasi kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) untuk menyampaikan ke masyarakat bahwa melakukan aksi terorisme dilarang oleh semua agama.

    "Dengan demikian masyarakat ini tidak ada lagi yang memberikan bantuan, baik berupa logistik maupun informasi," ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara Komisaris Besar Didik Supranoto saat dihubungi pada Rabu, 28 Juli 2021.

    Selain itu, Satgas Madago Raya juga bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan pemerintah daerah untuk memberikan bantuan kepada para mantan simpatisan dan narapidana teroris, yakni berupa modal usaha.

    Didik mengatakan dengan diberikannya modal usaha, maka akan timbul kesadaran bahwa pemerintah telah memberikan perhatian. "Pemerintah hadir dalam mengatasi permasalahan yang dia hadapi," kata dia.

    Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah Inspektur Jenderal Abdul Rakhman Baso sebelumnya mengungkapkan kesulitan menangkap enam anggota teroris yang bermukim di Poso itu. Hal itu disebabkan adanya simpatisan teroris di wilayah tersebut.

    "Selain medan yang berat, hal utamanya karena masih adanya simpatisan yang mendukung mereka. Kalau mau cepat selesai ya tidak ada simpatisan, tidak ada gerakan-gerakan yang mendukung mereka, maka kasus Poso akan cepat selesai," ujar Abdul Rakhman melalui keterangan tertulis pada Selasa, 27 Juli 2021.

    Saat ini, kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur tersisa enam orang. Pada dua pekan lalu, polisi menembak mati tiga orang buronan kasus terorisme itu dalam waktu yang berbeda.

    Baca juga: Polri Minta Kelompok Teroris MIT yang Tersisa 6 Orang Serahkan Diri

    ANDITA RAHMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pelonggaran Kembali PPKM: Aturan Baru WFO, Bioskop, dan Anak-anak

    Pemerintah kembali melonggarkan sejumlah aturan PPKM yang berlaku hingga 4 Oktober 2021. Pelonggaran termasuk WFO, bioskop, dan anak-anak di mall.