Mahasiswa Surabaya Angkat Bicara Perpanjangan PPKM Level 4

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas berjaga di Jalan Tunjungan yang ditutup, di Surabaya, Jawa Timur, Jumat, 22 Januari 2021. Penutupan jalan itu untuk menciptakan Kawasan Tertib Jaga Jarak Fisik (physical distancing) di masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sebagai upaya untuk mencegah penularan Covid-19. ANTARA/Didik Suhartono

    Petugas berjaga di Jalan Tunjungan yang ditutup, di Surabaya, Jawa Timur, Jumat, 22 Januari 2021. Penutupan jalan itu untuk menciptakan Kawasan Tertib Jaga Jarak Fisik (physical distancing) di masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sebagai upaya untuk mencegah penularan Covid-19. ANTARA/Didik Suhartono

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi, mengumumkan perpanjangan PPKM Darurat dan dilanjutkan dengan PPKM Level 4 hingga 2 Agustus 2021. 

    Bagaimana pendapat beberapa mahasiswa Surabaya mengenai perpanjangan PPKM Level 4? 

    Shadiqa, anggota HIMA Antropologi Unair mengatakan bahwa ia sangat kecewa lantaran PPKM yang terus menerus diperpanjang. Meskipun kecewa, ia tetap melihat sisi baik dari PPKM yang dijalankan untuk upaya penurunan angka Covid-19 yang akhir-akhir ini naik drastis.

    "Menurut saya, kalau memang PPKM akan diperpanjang harusnya dievaluasi lagi karena jika PPKM terus diperpanjang tetapi tidak menurunkan angka Covid-19 juga kan berarti ada yang salah dalam penyelenggaraannya," katanya.

    Selain itu, ia juga berkomentar mengenai bagaimana caranya agar PPKM yang dijalankan bisa efektif. Ia berkata, salah satunya yaitu adalah meningkatkan kesadaran masyarakat secara sosialisasi protokol kesehatan yang lebih ketat.

    Selain itu, ia pun berpendapat agar sosialisasi dapat dilakukan dengan strategi komunikasi menggunakan kebudayaan, misalnya dengan memberi sosialisasi dari tokoh adat atau agama.

    "Kalau masalah UMKM sih udah pasti terdampak, tapi kalau tidak salah, PPKM hingga 2 Agustus ini akan ada sedikit kelonggaran, boleh makan di luar asalkan mematuhi protokol kesehatan yang ketat. Intinya yang diterbitkan berpotensi ada virus, ada kerumunan serta penerapan protokol kesehatannya, bukan kegiatan berjualannya sih menurut saya," ujarnya. 

    Di sisi lain, Luna Marina, anggota HMJ Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Surabaya memberikan pendapatnya, jika angka kasus Covid-19 juga sudah mulai menurun, alangkah baiknya kalau pemerintah masih terus memantau.

    "Tapi sebagian masyarakat menengah ke bawah, jujur sangat kesulitan untuk bertahan hidup kalau keadaan seperti ini nggak ada bantuan yang memadai dan sampai ke masyarakat menengah ke bawah secara langsung," ujarnya. Ia mengatakan, dengan diperpanjang seharusnya pemerintah lebih fokus kepada pengawasan bantuan sosial agar tidak ada kesalahan dalam pelaksanaannya.

    Ia mengatakan, agar PPKM efektif harus ada kesadaran lagi dari masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan dan melakukan vaksin, karena menurutnya jika diadakan PPKM tanpa kepatuhan masyarakat hal tersebut akan sia-sia.

    "Kebijakan ini kayak serba salah, kalau enggak ada PPKM itu penyebaran virus pasti banyak banget, tetapi kalau ada PPKM ekonomi rakyat jadi turun," kata Betta Aisyiyah, mahasiswa anggota UKM Softball Universitas Airlangga. Menurutnya, PPKM level 4 tidak berdampak ke dirinya sama sekali karena ia hanya diam di rumah. Tetapi hal tersebut sangat berdampak bagi para UMKM khususnya pedagang kecil.

    Menurut Betta, agar perpanjangan PPKM Level 4 ini efektif, masyarakat perlu divaksin dan menjalani protokol kesehatan. Ia juga menyayangkan masyarakat yang tidak mau divaksin karena menurutnya vaksinasi ini merupakan salah satu cara untuk membasmi virus corona.

    VALMAI ALZENA KARLA

    Baca: Ini 4 Pelonggaran Aktivitas PPKM Level 4 yang Diperpanjang Hingga 2 Agustus


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.