Epidemiolog Anggap PPKM Darurat Belum Menunjukkan Hasil

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana Pos Penyekatan PPKM Level 4 di Lenteng Agung, Jakarta, Rabu, 21 Juli 2021. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Suasana Pos Penyekatan PPKM Level 4 di Lenteng Agung, Jakarta, Rabu, 21 Juli 2021. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Epidemiolog dari Universitas Airlangga, Windhu Purnomo, menilai pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat atau PPKM darurat belum menunjukkan hasil. Windhu mengatakan, data menunjukkan bahwa pembatasan mobilitas belum optimal dan tingkat penularan Covid-19 belum turun.

    "Kalau melihat data itu, PPKM darurat belum menunjukkan hasil," kata Windhu kepada Tempo, Rabu, 21 Juli 2021. Merujuk data Google Mobility Index, Windhu mengakui memang ada penurunan mobilitas di tempat transportasi, rekreasi, dan pusat perbelanjaan.

    Masyarakat juga tercatat lebih banyak yang tinggal di rumah. Namun, kata Windhu, perpindahan aktivitas di rumah itu belum signifikan.

    DKI Jakarta hanya bertambah 23 persen masyarakat yang tinggal di rumah, Yogyakarta 21 persen, dan Jawa Timur hanya 15 persen. Windhu berujar, artinya masih banyak masyarakat yang beraktivitas di luar rumah.

    ADVERTISEMENT

    Menurut Windhu, laju penularan kasus akan tertahan jika 70 persen masyarakat bisa tinggal di rumah. Dia mencontohkan, India bisa menurunkan angka kasus Covid-19 karena 90 persen warganya bisa tinggal di rumah selama tiga pekan lockdown.

    Windhu lantas mempertanyakan klaim Presiden Joko Widodo (Jokowi) ihwal penurunan kasus Covid-19 dan keterisian tempat tidur rumah sakit selama masa PPKM darurat. Ia menyebutkan, positivity rate pada Selasa, 20 Juli 2021 justru mencapai angka tertinggi sejak pemberlakuan PPKM darurat pertama pada 3 Juli lalu. "Kalau Presiden mengatakan angka turun, yang turun di mana?" ujarnya.

    Windhu mengatakan dalam dua hari belakangan memang tercatat penurunan kasus positif Covid-19. Namun, hal itu pun terjadi karena jumlah pengetesan (testing) juga menurun. Maka dari itu, ia mengecek tingkat keparahan penyebaran Covid-19 dengan melihat data rasio kasus positif dibanding jumlah pengetesan.

    Positivity rate pada 20 Juli kemarin ialah sebesar 33,42 persen. Pada 19 dan 18 Juli, angkanya berturut-turut 32,4 persen dan 26,88 persen. Menurut Windhu, positivity rate pada 3 Juli juga berkisar di angka 26 persen. "Justru positivity rate tertinggi setelah tanggal 3 Juli ketika PPKM pertama kali diterapkan," kata Windhu.

    Artinya, Windhu melanjutkan, saat ini belum terjadi penurunan tingkat penularan di masyarakat. Ia mengatakan tingkat keterisian rumah sakit pun stagnan alias belum membaik.

    Presiden Jokowi sebelumnya mengumumkan perpanjangan PPKM darurat hingga 25 Juli 2021. Presiden juga mengklaim data menunjukkan terjadi penurunan kasus Covid-19 dan keterisian rumah sakit selama PPKM darurat. Jika kasus terus menurun, kata Jokowi, pemerintah akan melakukan pembukaan sejumlah sektor ekonomi masyarakat secara bertahap mulai 26 Juli.

    Baca juga: Gubernur Khofifah Minta Maaf Penanganan Covid-19 di Jatim Belum Memuaskan 

    BUDIARTI UTAMI PUTRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Warga Tak Punya NIK Bisa Divaksinasi, Simak Caranya

    Demi mencapai target tinggi untuk vaksinasi Covid-19, Kementerian Kesehatan memutuskan warga yang tak punya NIK tetap dapat divaksin. Ini caranya...