PPKM Darurat Diklaim Tekan Kasus Covid-19, Kawal Covid-19: Tak Benar-benar Turun

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pasien menjalani perawatan di tenda darurat yang dijadikan ruang IGD (Instalasi Gawat Darurat) di RSUD Bekasi, Jawa Barat, Jumat, 25 Juni 2021. ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansya

    Sejumlah pasien menjalani perawatan di tenda darurat yang dijadikan ruang IGD (Instalasi Gawat Darurat) di RSUD Bekasi, Jawa Barat, Jumat, 25 Juni 2021. ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansya

    TEMPO.CO, Jakarta - Co-Founder Kawal Covid-19 Elina Ciptadi mengatakan bahwa belum ada indikasi pandemi Covid-19 terkendali selama pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat atau PPKM Darurat. “Tingkat positivitas kasus masih jauh di atas 20 persen,” kata Elina kepada Tempo, Selasa, 20 Juli 2021.

    Elina menjelaskan indikator pandemi terkendali adalah positivity rate (perbandingan antara jumlah kasus positif Covid-19 dengan jumlah tes yang dilakukan) di bawah 5 persen selama setidaknya 3 pekan berturut-turut. Sementara Indonesia, kata Elina, tidak pernah mencapai angka positivity rate di bawah 5 persen. 

    Beberapa hari ini selama PPKM Darurat, Elina mengungkapkan, bahwa kasus Covid-19 turun diikuti dengan jumlah tes yang turun. “Jadi enggak bisa dibilang kasus benar-benar turun. Sementara kematian justru meningkat,” ujarnya.

    Mengenai kebijakan PPKM Darurat yang akan diperlonggar jika jumlah kasus positif turun pada 26 Juli, Elina meragukan angka positivity rate bisa turun dalam sekejap. Pasalnya, di semua negara yang bisa menurunkan kasus dan positivity rate itu bertahap, yaitu dengan pembatasan mobilitas yang ketat, dan tes juga tracing yang masif.

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi resmi memperpanjang PPKM Darurat sampai 25 Juli 2021. Jokowi mengklaim, dengan PPKM Darurat, penambahan kasus Covid-19 dan kepenuhan bed rumah sakit mengalami penurunan.

    Dalam pidatonya, ia juga menyampaikan akan melakukan pelonggaran secara bertahap jika tren kasus mengalami penurunan pada 26 Juli.

    Berdasarkan data yang dikumpulkan Tempo, semua target penanganan Covid-19 selama 18 hari pelaksanaan PPKM Darurat masih gagal tercapai. Setidaknya ada enam indikator target yang tidak tercapai, yakni pengetesan, pelacakan, penurunan mobilitas, vaksinasi, angka positivitas atau positivity rate, dan target menekan laju penularan. Dalam pengetesan, misalnya, pemerintah menargetkan 324 ribu per hari di Jawa dan Bali. Realisasinya, pemerintah hanya mampu mencapai 127 ribu per hari, dan itu pun angka total nasional.

    Target vaksinasi sebanyak 1 juta per hari, faktanya hanya dapat dipenuhi 546 ribu per hari. Target menekan laju kenaikan penularan hingga 10 ribu kasus per hari, juga masih jauh. Kemarin, angka kasus harian sebanyak 34.257. Begitu pula dengan pelacakan, target 15 orang per satu kasus positif atau 300 ribu kontak tapi realisasi masih 250 ribu kontak.

    Target positivity rate 10 persen, realisasinya masih 25 persen. Target penurunan mobilitas 30 persen, namun yang tercapai masih 20 persen.

    Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengakui pembatasan darurat memang belum sempurna dalam memenuhi target. Meski begitu, ia menyatakan bukan berarti PPKM darurat tidak ada hasil. “Apakah enggak ada hasilnya, ada. Apakah bisa ditingkatkan, sangat bisa,” kata Menkes Budi dikutip dari Koran Tempo edisi Selasa, 20 Juli 2021.

    Baca juga: Jokowi Sebut Angka Penambahan Kasus Covid-19 Menurun, Cek Datanya

    FRISKI RIANA | DEWI NURITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.