Menkes Minta Publik Tak Panik Lihat Lonjakan Kasus Covid-19, Apa Alasannya?

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin mengunjungi ruang ICU Covid-19 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Kunjungan ini untuk menyemangati tenaga kesehatan atau nakes yang tengah bertugas. Kemenkes

    Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin mengunjungi ruang ICU Covid-19 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Kunjungan ini untuk menyemangati tenaga kesehatan atau nakes yang tengah bertugas. Kemenkes

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Kesehatan atau Menkes Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat dan media tidak terlalu panik jika melihat data lonjakan kasus Covid-19 harian.

    Pertama, Budi mengatakan, lonjakan kasus harian juga dipengaruhi naiknya angka pengetesan alias testing. "Maka hari ini akan ada lonjakan testing, mungkin juga akan ada lonjakan kasus konfirmasi," kata Budi dalam Rapat Kerja dengan Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat, Selasa, 13 Juli 2021.

    Berikutnya, Budi mengatakan hasil testing tak selalu dapat dilaporkan dengan cepat. Ia mengatakan data kasus konfirmasi bisa saja baru dilaporkan setelah beberapa hari.

    "Saya terbuka bila masih banyak data yang belum masuk. Nah sekarang kami dorong supaya itu masuk, jadi Bapak Ibu akan lihat lonjakannya, tidak usah panik terutama teman-teman media, jangan terlalu panik," kata Budi.

    Menurut Budi, Kemenkes pun mendorong daerah untuk selalu melaporkan data kasus Covid-19 yang sudah terkonfirmasi secepatnya. Ia mengatakan lebih baik melaporkan data apa adanya ketimbang menutup-nutupi angka, tetapi pada akhirnya terjadi ledakan kasus Covid-19.

    "Itu yang kejadian sekarang kan tiba-tiba enggak ada kasus konfirmasi tapi masuk ke rumah sakitnya banyak. Orang sebelum masuk ke rumah sakit kan sudah terkonfirmasi dulu," ujarnya.

    Maka dari itu, kata Budi, dalam beberapa hari ini akan terlihat lonjakan kasus, tetapi bukan semuanya merupakan kasus baru. Ia mengatakan data yang dirilis hari ini bisa saja berasal dari pengetesan enam hari sebelumnya.

    Budi juga mengakui sistem pengetesan (testing) dan pelacakan (tracing) memang belum sempurna. Namun katanya, hal ini bukan saja terjadi di Indonesia melainkan di seluruh dunia. 

    Mantan Direktur Utama Bank Mandiri ini mengatakan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) pun menggunakan sistem 7-day average atau rata-rata tujuh hari. Misalnya, data hari ketujuh akan dilihat dari rata-rata hari pertama hingga ketujuh. Kemudian data hari kedelapan akan dilihat dari rata-rata hari kedua hingga kedelapan. "Dengan demikian adanya anomali dengan testing dan tracing bisa kita luruskan," kata Menkes Budi Gunadi.

    Baca juga: Moeldoko Minta Publik Dukung Vaksin Covid-19 Berbayar, Bisa Kurangi Beban Negara


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.