WHO Belum Rekomendasikan Vaksin Booster, Kemenkes: Sudah Ada Kajian Keamanan

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tenaga medis dari Dinas Kesehatan Kota Tangerang menyuntikan vaksin Covid-19 kepada karyawan mal saat di Mal Tangerang City, Banten, Senin, 1 Maret 2021. Dinas Kesehatan Kota Tangerang bekerja sama dengan pengelola mal melakukan vaksinasi Covid-19 terhadap 1.000 karyawan mal dan pekerja tenant yang bertujuan memberikan semangat dan harapan baru untuk pemulihan ekonomi Kota Tangerang di masa pandemi. ANTARA/Muhammad Iqbal

    Tenaga medis dari Dinas Kesehatan Kota Tangerang menyuntikan vaksin Covid-19 kepada karyawan mal saat di Mal Tangerang City, Banten, Senin, 1 Maret 2021. Dinas Kesehatan Kota Tangerang bekerja sama dengan pengelola mal melakukan vaksinasi Covid-19 terhadap 1.000 karyawan mal dan pekerja tenant yang bertujuan memberikan semangat dan harapan baru untuk pemulihan ekonomi Kota Tangerang di masa pandemi. ANTARA/Muhammad Iqbal

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Kesehatan memastikan bahwa rencana vaksinasi tahap ketiga atau vaksin booster untuk tenaga kesehatan aman. Meski Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum merekomendasikan pelaksanaan vaksin booster tersebut, namun Kemenkes menuturkan sudah ada kajian untuk memastikan bahwa vaksinasi bisa dilakukan.

    Juru bicara vaksinasi dari Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tamizi, mengatakan Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) juga sudah merekomendasikan vaksinasi dosis ke-3 bisa diberikan. "Untuk tenaga kesehatan yang telah menerima vaksin 3-6 bulan dosis lengkap. Artinya aspek keamanannya sudah dipertimbangkan," kata Nadia, saat dihubungi Selasa, 13 Juli 2021.

    Nadia mengatakan tambahan booster ini merupakan usulan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Hal ini berarti organisasi profesi sudah mengkaji terkait keamanan penggunaan vaksin ini.

    Menurut Nadia, dalam Join Committee on Vaccination and Immunization dan pertemuan WHO, wacana ini telah dibahas. Dari beberapa studi uji klinis tahap satu dan dua, Nadia mengatakan terlihat pemberian booster akan meningkatkan titer antibodi yang lebih tinggi level proteksinya.

    Nadia mengatakan belum adanya rekomendasi dari WHO ini adalah karena masih adanya jurang dari penyediaan vaksin di dunia. WHO meyakini untuk mengendalikan pandemi maka semua negara harus mendapatkan akses vaksin tuk semua.

    "Saat ini masih ada negara yang masyarakat yang tervaksinasi masih kurang dari 1 persen. Jadi ini yang menjadi rekomendasi WHO adalah (perluasan dulu) untuk masyarakat umum," kata Nadia.

    Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan belum jelas benar apakah vaksin booster (penguat) akan dibutuhkan untuk mempertahankan perlindungan melawan Covid-19. WHO menyebut perlu lebih banyak data yang harus dikumpulkan untuk memastikannya. WHO menilai data yang ada saat ini masih terbatas untuk bisa mengetahui secara pasti berapa lama proteksi yang diberikan dosis-dosis vaksin Covid-19. 

    Baca juga: WHO Belum Yakin Kebutuhan Vaksin Booster


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.