Ini Cakupan Sektor Kritikal, Esensial, dan Non-Esensial selama PPKM Darurat

Reporter:
Editor:

Nurhadi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas memeriksa surat keterangan kantor tempat bekerja pengendara di  pos penyekatan Panasonic, Jalan Raya Bogor, Jakarta, Kamis, 8 Juli 2021. Para tenaga kesehatan (nakes) dan pekerja di sektor kritikal diberi jalur khusus sehingga tidak akan terjebak macet akibat pemeriksaan. TEMPO/Subekti.

    Petugas memeriksa surat keterangan kantor tempat bekerja pengendara di pos penyekatan Panasonic, Jalan Raya Bogor, Jakarta, Kamis, 8 Juli 2021. Para tenaga kesehatan (nakes) dan pekerja di sektor kritikal diberi jalur khusus sehingga tidak akan terjebak macet akibat pemeriksaan. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Penerapan PPKM Darurat di Jawa dan Bali menjadi PR pemerintah untuk memberlakukan kebijakan work from office (WFO) dan work from home (WFH). Kebijakan ini diterapkan untuk menekan mobilisasi masyarakat dan potensi penyebaran Covid-19.

    Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, menyampaikan usulan revisi untuk sektor kritikal dan esensial. “Agar peraturan lebih efisien, kami melakukan beberapa penyesuaian,” ujar Luhut seperti dikutip dari laman Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Jumat, 9 Juli 2021.

    Berikut ini cakupan sektor kritikal, esensial, dan non-esensial yang dimaksud Menteri Luhut:

    Sektor Kritikal

    Sektor ini terdiri dari:

    1. Kesehatan
    2. Keamanan dan ketertiban masyarakat
    3. Energi
    4. Logistik, transportasi, dan distribusi terutama untuk kebutuhan pokok masyarakat
    5. Makanan dan Minuman dan penunjangnya, termasuk untuk ternak/hewan peliharaan
    6. Petrokimia
    7. Semen dan bahan bangunan
    8. Objek Vital Nasional
    9. Proyek Strategis Nasional
    10. Konstruksi
    11. Utilitas dasar (listrik, air, pengelolaan sampah)

    Nomor (1) dan (2) adalah jenis pekerjaan yang diperbolehkan untuk beroperasi maksimal 100% staf tanpa pengecualian. Sedangkan nomor (3) hingga (11) adalah jenis yang dapat beroperasi maksimal 100% staf hanya pada fasilitas produksi, konstruksi, atau pelayanan kepada masyarakat. Operasi perkantoran guna mendukung operasional hanya diberlakukan maksimal 25% staf.

    Sektor Esensial

    Sektor ini terdiri dari:

    1. Keuangan dan perbankan hanya meliputi asuransi, bank, dana pensiun, dan lembaga pembiayaan
    2. Pasar modal
    3. Teknologi informasi dan komunikasi meliputi operator seluler, data center, internet, pos, media terkait dengan penyebaran informasi kepada masyarakat
    4. Perhotelan non penanganan karantina
    5. Industri orientasi ekspor dimana pihak perusahaan harus menunjukkan bukti contoh dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) selama 12 bulan terakhir atau dokumen lain yang menunjukkan rencana ekspor dan wajib memiliki IOMKI (Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri)

    Nomor (1) hingga (4) merupakan jenis pekerjaan yang dapat beroperasi dengan kapasitas maksimal 50% staf. Sementara nomor terakhir dapat beroperasi dengan kapasitas maksimal 50% staf yang bekerja di fasilitas produksi atau pabrik. Wilayah perkantoran pendukung operasional hanya diperbolehkan maksimal 10% staf.

    Sektor Non-Esensial

    Sektor ini terdiri dari jenis pekerjaan yang tidak tercakup dalam sektor kritikal dan esensial. Kegiatan perkantoran ditiadakan dan WFH diberlakukan 100%. Sektor lain yang menerapkan sistem daring 100% adalah kegiatan belajar mengajar.

    Luhut mengimbau seluruh masyarakat Indonesia turut berkontribusi dalam berjalannya PPKM Darurat ini. “Pemerintah akan bikin PPKM yang lebih ketat kalau sampai minggu depan tidak ada perubahan,” ujarnya dalam keteran persnya, Rabu 7 Juli 2021.

    DINA OKTAFERIA

    Baca juga: Luhut Minta Mendagri Revisi Kategori Sektor Esensial, Non-Esensial, dan Kritikal


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ini Daftar Lengkap Hari Libur Nasional dan Catatan Tentang Cuti Bersama 2022

    Sebanyak 16 hari libur nasional telah ditetapkan oleh pemerintah. Sedangkan untuk cuti bersama dan pergesera libur akan disesuaikan dengan kondisi.