Pemerintah Diminta Lacak usai Peserta Munas Kadin Meninggal karena Covid-19

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pengurus Kadin berfoto bersama usai Munas VIII dengan agenda pemilihan Ketua Umum Kadin periode 2021-2026 di Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis 1 Juli 2021. Arsjad Rasjid resmi menjadi Ketua Umum Kadin periode 2021-2026 berdasarkan kesepakatan musyawarah dan mufakat pada Munas VIII di Kendari sedangkan Anindya Bakrie yang sebelumnya mencalonkan diri sebagai ketua umum dipilih menjadi Ketua Dewan Pertimbangan. ANTARA FOTO/Jojon

    Sejumlah pengurus Kadin berfoto bersama usai Munas VIII dengan agenda pemilihan Ketua Umum Kadin periode 2021-2026 di Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis 1 Juli 2021. Arsjad Rasjid resmi menjadi Ketua Umum Kadin periode 2021-2026 berdasarkan kesepakatan musyawarah dan mufakat pada Munas VIII di Kendari sedangkan Anindya Bakrie yang sebelumnya mencalonkan diri sebagai ketua umum dipilih menjadi Ketua Dewan Pertimbangan. ANTARA FOTO/Jojon

    Tempo.co, Kendari - Sepekan usai Musyawarah Nasional Kamar Dagang dan Industri atau Munas Kadin ke VIII dihelat memunculkan kluster baru kasus Covid-19 di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Seorang peserta Munas Kadin bernama Rudi D Siregar meninggal terpapar Covid-19 setelah dirawat selama 6 hari di Rumah Sakit Swasta Hermina.

    Informasi yang dihimpun Tempo, pihak keluarga Rudi pada Kamis, 8 Juli 2021 datang dari Jakarta untuk melihat proses kremasi jenazah di Kota Lulo Kendari.

    Epidemiolog Ramadhan Tosepu mengatakan temuan kasus Covid-19 yang menyebabkan seorang peserta Munas Kadin meninggal harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah baik kota mau pun provinsi. Klaster ini dinilai Ramadhan sangat berbahaya. Pasalnya korban berasal dari Jakarta yang diketahui merupakan wilayah zona terlarang.

    “Perputaran orang tidak bisa dikendalikan. Bisa saja dia sudah bertemu dengan orang banyak. Ini yang kita takutkan dan faktanya itu sudah terjadi," ujar Ramadhan. 

    Menurut dia, peluang penularan selalu terbuka kendati sudah menerapkan protokol kesehatan. "Saat berdiskusi atau makan kan melepas masker itulah potensi bisa menularkan kepada orang lain,” jelas Ramadhan yang juga dosen di Fakutas Kesehatan Masyarakat Universitas Halu Oleo Kendari.

    Ia menilai pemerintah telah kecolongan karena mengizinkan pelaksanaan Munas Kadin digelar di Kendari. Selaiknya pemerintah bisa mempertimbangkan dan memprioritaskan kesehatan dan keselamatan masyarakat daripada mengejar keuntungan ekonomi.

    “Mereka meninggalkan beban bagi masyarakat Sulawesi Tenggara. Dan masyarakat yang harus menanggung konsekuensinya. Bagi saya ini bukan kasus main-main, ada yang meninggal,” kata Ramadhan.  

    Ia meminta pemerintah segera melakukan pelacakan (tracing) dan memburu kontak erat korban. Ini harus dilakukan secepatnya untuk menghindari munculnya kasus baru dan memproteksi agar tidak menyebar luas.

    “Saya khawatir ini virus varian baru. Karena korban sudah dapat dari luar dan masuk ke Kendari. Namun untuk memastikan butuh pemeriksaan lebih cermat,” ujarnya. 

    Sementara itu Juru Bicara Satgas Covid-19 Kota Kendari Alghazali, membenarkan jika satu peserta Munas Kadin meninggal pada 6 Juli 2021. Merunut pada temuan kasus di Munas Kadin, Alghazali menerangkan hal itu pertama kali diketahui pada 29 Juni 2021 lalu. Saat itu dua peserta Munas Kadin yang berasal dari luar Sultra terdeteksi positif Covid-19 usai melalui tes PCR.

    Rudi Siregar yang merupakan Wakil Ketua Komite Hubungan Antar Lembaga Kadin Indonesia Periode 2015-2020 itu dirawat di rumah sakit Hermina Kendari. Sementara seorang lainya dirawat di pusat rehabilitasi Covid-19 di kawasan Ranomeeto Kabupaten Konawe Selatan.

    Sepekan setelah Munas Kadin dihelat, menurut Alghazali, Satgas belum menerima laporan adanya kasus baru dari kluster Kadin atau dari kontak erat dua peserta positif pada Munas Kadin.

    “Pada dasarnya yang masuk dan keluar semuanya sudah melakukan tes PCR. Pasca temuan itu kami mengimbau jika ada peserta yang melakukan kontak erat untuk melakukan pemeriksaan lebih seksama,” kata Alghazali.

    Ihwal adanya kenaikan kasus Covid-19 di Kota Kendari selama sepekan ini, Algazali mengatakan hal itu tidak ada kaitan dengan Munas Kadin. Tren kenaikan kasus Covid-19 Sultra juga terjadi di sejumlah wilayah seperti Kota Baubau, Kabupaten Konawe, dan kabupaten Wakatobi.

    Menurut dia, kenaikan kasus Covid-19 salah satunya dipengaruhi oleh banyaknya warga yang mulai abai dengan protokol kesehatan. "Kendari berstatus zona kuning mengarah ke orange. Untuk kenaikan kasus yang terjadi di Kota Kendari tidak ada kaitan dengan kasus di Munas Kadin” kata dia.

    Baca juga: Kabupaten Bogor Gelar Sidang 27 Pelanggar PPKM Darurat, Hukumannya?

    ROSNIAWANTI 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.