Kisah Warga Kesulitan Cari Obat di Tengah Lonjakan Kasus Covid-19

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana Pasar Pramuka yang dikunjungi warga untuk membeli obat dan vitamin di tengah meningkatnya kasus Covid-19, Jakarta, Senin, 28 Juni 2021. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Suasana Pasar Pramuka yang dikunjungi warga untuk membeli obat dan vitamin di tengah meningkatnya kasus Covid-19, Jakarta, Senin, 28 Juni 2021. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Suara batuk masih terus keluar dari Endri Kurnia, salah satu pegawai swasta asal Surabaya, ketika dihubungi Tempo via sambungan telepon, Kamis, 8 Juli 2021. Semenjak diperbolehkan keluar dari isolasi terpusat Covid-19 di Asrama Haji Surabaya pada Ahad lalu, batuk Endri belum juga berhenti.

    "Di asrama juga sebetulnya sudah dikasih obat yang sama dengan saat sebelum masuk di sana. Tapi sampai akhirnya keluar (batuknya) ga sembuh-sembuh," kata Endri.

    Merasa tak cocok, Endri akhirnya berkonsultasi dengan salah satu temannya yang merupakan dokter di Rumah Sakit Polri Sukanto. Ia disarankan mengganti obatnya dan beralih menggunakan Codipront atau vectrine sirup. Dari sini, Endri mulai menyadari sulitnya mendapatkan obat.

    Karena masih harus menjalankan isolasi mandiri pasca keluar dari Asrama Haji, Endri memilih mencari obat itu via telepon ke apotek-apotek langganannya. Namun semua apotek kecil itu tak menjual obat tersebut. Ia pun beralih ke apotek besar seperti Kimia Farma.

    "Ada lima Kimia Farma saya tanya, gak ada semua. Dijawabnya kosong karena habis," kata Endri.

    Ia kembali bertanya pada teman dokternya. Endri meminta rekomendasi obat lain selain Codipront. Muncullah dua nama, yakni Vostrine dan Vectrine. Keduanya obat batuk dengan kemasan sirup. Sayangnya, obat-obat itu juga telah habis di pasaran Surabaya.

    Tak menyerah, Endri mencoba menghubungi adiknya di Bandung dan Bogor untuk menanyakan ketersediaan obat-obat itu di sana. Hasilnya codipront ternyata masih tersedia. Namun Endri tak bisa mendapatkannya karena obat itu hanya bisa dibeli dengan resep dokter dari wilayah obat itu dijual.

    Ia akhirnya mendapat bantuan obat dari salah seorang temannya yang memiliki apotik di Bogor, Jawa Barat. Sudah empat hari sejak Endri keluar dari Asrama Haji Surabaya, namun obatnya masih belum juga tiba. Batuk yang terus terdengar dari mulutnya.

    Endri mengatakan saat ini kondisi penanganan kesehatan di Surabaya sudah sangat buruk. Selain obat-obatan yang makin sulit, krisis oksigen juga terjadi di berbagai apotek. Selain itu Instalasi Gawat Darurat (IGD) juga banyak yang terpaksa ditutup karena tenaga kesehatannya terpapar Covid-19.

    "Sekarang muncul lagi sulitnya cari obat-obatan. Ini situasi yang berat bagi orang yang sakit," kata Endri.

    Juru Bicara Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan telah mendengar informasi terkait makin sulitnya obat Covid-19 ini. Karena itu, ia menyebut Kemenkes telah memanggil juga Pedagang Besar Farmasi (PBF) untuk mengkoordinasikan hal ini. "Disampaikan memang stok yang terbatas dan sedang menunggu pengiriman selanjutnya," kata Nadia saat dihubungi Tempo, Kamis, 8 Juli 2021.

    Baca: Harga Obat Meroket, Polri Lakukan 208 Kegiatan Penyelidikan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.