Sebut Covid-19 Makin Mengganas, Ibas: Jangan Sampai Kita Disebut Negara Gagal

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas membacakan ikrar kesetiaan di tangga Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin, 15 Maret 2021. Fraksi Partai Demokrat DPR RI yang dipimpin oleh Ibas membacakan ikrar kesetiaan, tunduk, patuh pada konstitusi Partai Demokrat yang telah menetapkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai Ketua Umum Demokrat. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas membacakan ikrar kesetiaan di tangga Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin, 15 Maret 2021. Fraksi Partai Demokrat DPR RI yang dipimpin oleh Ibas membacakan ikrar kesetiaan, tunduk, patuh pada konstitusi Partai Demokrat yang telah menetapkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai Ketua Umum Demokrat. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR, Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas, khawatir Indonesia akan disebut sebagai bangsa yang gagal atau failed nation karena tak mampu menyelamatkan rakyatnya dari pandemi Covid-19.

    Ia menilai Covid-19 makin mengganas dan merenggut banyak nyawa. "Sampai kapan bangsa kita akan terus begini? Jangan sampai negara kita disebut sebagai failed nation atau bangsa yang gagal akibat tidak mampu menyelamatkan rakyatnya," katanya dalam keterangan tertulis, Rabu, 7 Juli 2021.

    Dia mengatakan, pemerintah terlihat tidak berdaya menangani pandemi Covid-19 yang sudah memasuki tahun kedua. Kurangnya tabung oksigen, kata dia, menunjukkan antisipasi yang lemah dari pemerintah. "Bagaimana mungkin tabung oksigen disumbangkan ke negara lain, tapi saat rakyat sendiri membutuhkan, barangnya susah didapat," kata dia.

    Pada Mei lalu, pemerintah memang menyumbangkan 1.400 tabung oksigen untuk India. Hal itu terjadi ketika India mengalami lonjakan kasus Covid-19.

    Menurut putra Susilo Bambang Yudhoyono ini, kasus tabung oksigen ini merupakan preseden buruk. Ia menilai hal tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah kurang sigap mempersiapkan kebutuhan untuk menjawab gejala-gejala yang muncul sebelumnya. "Kan ada varian baru di negara lain. Kita tahu itu bukan tak mungkin masuk ke negara kita," ujar Ibas.

    Ia berpendapat, gejala-gejala itu mestinya sudah dibaca dan diikuti persiapan kebutuhan medis. Ibas menilai kemungkinan masuknya varian baru itu mestinya bisa diantisipasi. "Tidak ada yang mendadak, karena pandemi kan sudah masuk tahun kedua, jadi harusnya bisa diantisipasi," kata legislator dari daerah pemilihan Jawa Timur 7 ini.

    Dia lantas meminta pemerintah tegas mengambil keputusan ihwal vaksin. Ia mengatakan pemerintah harus segera menyediakan vaksin yang lebih baik jika vaksin yang ada kini tidak cukup manjur.

    Pemerintah, kata Ibas, juga mesti melakukan percepatan vaksinasi Covid-19 di daerah-daerah ekstrem yang menjadi prioritas. "Sehingga kita bisa hidup normal lagi seperti negara lain, seperti beberapa negara di Eropa misalnya," kata Ibas.

    Baca juga: Lapor Covid-19 Sebut Pemerintah Harus Akui Kondisi Darurat dan Minta Maaf ke Rakyat


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.