Ridwan Kamil: Jawa Barat Defisit 76 Ton Oksigen

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang penarik becak mengangkut tabung-tabung oksigen, di Bandung, Jawa Barat, 5 Juli 2021. Beberapa rumah sakit di Bandung menutup layanan IGD untuk Covid-19 karena minimnya pasokan oksigen. TEMPO/Prima Mulia

    Seorang penarik becak mengangkut tabung-tabung oksigen, di Bandung, Jawa Barat, 5 Juli 2021. Beberapa rumah sakit di Bandung menutup layanan IGD untuk Covid-19 karena minimnya pasokan oksigen. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Bandung - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan, rumah sakit di daerahnya kekurangan pasokan oksigen hingga 76 ton. “Defisit Jawa Barat itu 76 ton, jadi kami harus mencari suplai sebanyak itu,” kata dia, Selasa, 6 Juli 2021.

    Mantan Wali Kota Bandung ini mengatakan, sementara ada tiga BUMN yang bersedia mengirim pasokan oksigen. “Kami mendapat mitra dari 3 BUMN, satunya adalah PT Pupuk Sriwijaya di Palembang, kedua dengan Krakatau Steel di Cilegon, dan Pertamina di Indramayu,” kata dia.

    Kemarin, Selasa, 6 Juli 2021, PT Pupuk Sriwijaya mengirim mobil tangki bersisi 10 ton oksigen cair. Polisi secara estafet mengawal truk oksigen tersebut dari Sumatra Selatan menuju Jawa Barat.

    Emil, sapaan akrabnya, mengatakan, oksigen cair kiriman Pupuk Sriwijaya tersebut akan disimpan di 2 rumah sakit di Kota Bandung. Yakni Rumah Sakit Imanuel dan Rumah Sakit Al Islam. “Rumah sakit seperti Imanuel ini memiliki penyimpanan kurang lebih 5-6 ton, kira-kira begitu. Satu truk ini akan dibagi dua, satu ke Imanuel, satu ke Rumah Sakit Al Islamdi Soekarno-Hatta,” kata dia.

    Emil mengatakan, 10 ton oksigen cair tersebut setara dengan pengisian  hingga 1.500 ton tabung oksigen.

    “Saking banyaknya pasien yang membutuhkan, kurang lebih 3 harian akan habis. Oleh karena itu kami akan bekerja sama dengan Pupuk Sriwijaya dan lain-lain itu untuk bisa mengirim secara rutin, harian, atau per dua hari mensuplai Jawa barat,” kata dia.

    Ridwan Kamil mengatakan, Jawa Barat membutuhkan suplai oksigen tersebut untuk menekan defisit. “Jadi kalau 1 truk ini 10 ton kira-kira begitu, berarti kita butuh minimal 8 truk lagi skala ini untuk mensuplai gap dari suplai pasar normal untuk kebutuhan rumah sakit dan masyarakat,” kata dia.

    Baca juga: Bila Kasus Covid-19 Tembus 40 Ribu, Luhut akan Minta Bantuan Singapura dan Cina


     

     

    Lihat Juga