IDI Ungkap Solusi agar Pemerintah Tak Kekurangan Tenaga Kesehatan

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tenaga Kesehatan membawa pasien Covid-19 kedalam ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) di RSUD Pasar Minggu, Jakarta, Jumat, 25 Juni 2021. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Tenaga Kesehatan membawa pasien Covid-19 kedalam ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) di RSUD Pasar Minggu, Jakarta, Jumat, 25 Juni 2021. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Tim Mitigasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Mohammad Adib Khumaidi menyarankan pemerintah untuk memanfaatkan tenaga dari dokter pasca internship untuk ikut menangani pandemi Covid-19. Langkah ini perlu diambil untuk menyiasati semakin kurangnya sumber daya manusia (SDM) tenaga kesehatan akibat melonjaknya kasus.

    "Kebutuhan dokter umum bisa dengan substitusi atau dibantu dari dokter-dokter pasca internship. Yang jelas dia sudah punya kewenangan, kompetensi, sudah teregistrasi," kata Adib saat dihubungi Tempo, Senin, 5 Juli 2021.

    Dokter pasca internship ini merujuk pada dokter yang baru lulus dan sudah lulus uji kompetensi. Untuk dokter umum, Adib mengatakan akan bisa difungsikan bekerja di tempat-tempat yang membutuhkan tenaga medis. Sedang dokter spesialis akan dihitung jumlahnya untuk kemudian diperbantukan ke lokasi-lokasi yang dinilai paling membutuhkan.

    "Jadi yang dibutuhkan sekarang bagaimana setiap wilayah memiliki mapping kemampuan fasilitas dan SDM. Kondisi di lapangan dengan jumlah pasien yang masuk," kata Adib.

    Di tengah lonjakan kasus Covid-19 yang eksponensial seperti saat ini, Adib mengatakan masalah utama tenaga kesehatan (nakes) bukan kelelahan. Namun kurangnya tenaga pengganti saat banyak nakes lain ikut terpapar.

    Adib mengatakan ketidakmampuan fasilitas kesehatan untuk menampung pasien, bukan hanya karena ruangan yang tidak lagi memadai. Kondisi ini bisa diselesaikan dengan penambahan fasilitas oleh pemerintah. Namun masalah utamanya juga adalah ada atau tidaknya tenaga kesehatan yang menjalankannya.

    "Itu yang kemudian banyak masyarakat tidak bisa tertangani, tidak bisa ditampung," kata Ketua Tim Mitigasi IDI Adib ihwal berkurangnya tenaga kesehatan.

    Baca juga: Tim Mitigasi IDI Minta Publik Tak Sembarangan Beli Tabung Oksigen, Ini Alasannya

    BUDIARTI PUTRI UTAMI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.