Pidato Harmoko yang Meminta Soeharto Mundur dari Kursi Presiden

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Harmoko. Dok TEMPO/Zulkarnain

    Harmoko. Dok TEMPO/Zulkarnain

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Menteri Penerangan Harmoko meninggal pada Ahad, 4 Juli 2021 di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto. 

    "Mohon dimaafkan segala kesalahan beliau dan mohon doanya insya Allah amal ibadah beliau diterima Allah SWT dan husnulkhatimah," kata anak Harmoko, Dimas Azisoko, pada Ahad, 4 Juli 2021. 

    Pria kelahiran Patianrowo, 7 Februari 1939 ini dikenal sebagai tangan kanan Soeharto. Namun, ia merupakan pejabat negara di era itu yang secara terang-terangan meminta Presiden kedua tersebut turun.

    Cerita ini terjadi pada 18 Mei 1998 ketika ribuan mahasiswa menduduki Gedung DPR/MPR. Kala itu, mahasiswa dan masyarakat mendesak agar Soeharto mundur. 

    Tak disangka, Harmoko berbicara di depan umum dan menyatakan dukungannya agar Soeharto turun.

    "Dalam menanggapi situasi seperti tersebut di atas, Pimpinan Dewan, baik Ketua maupun Wakil-wakil Ketua, mengharapkan, demi persatuan dan kesatuan bangsa, agar Presiden secara arif dan bijaksana sebaiknya mengundurkan diri," kata Harmoko, yang ketika itu merupakan Ketua DPR/MPR.

    Pidato ini tentu mengejutkan banyak orang. Sebab, ia juga yang mendukung Soeharto menjadi Presiden untuk ketujuh kalinya dalam Sidang Umum MPR pada 10 Maret 1998. Pada akhirnya, Soeharto mengundurkan diri setelah 32 tahun menjadi presiden pada 21 Mei 1998. 

    Harmoko diketahui sudah sakit sejak beberapa tahun lalu. Pada Mei 2021, Dimas mengatakan kondisi kesehatan mantan Menteri Penerangan ini kian menurun lantaran usia yang sepuh. Dimas menyebut sang ayah sudah tak bisa berkomunikasi.

    Baca juga: Putra Harmoko Minta Segala Kesalahan Sang Ayah Dimaafkan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.