Kenang Rachmawati Soekarnoputri, Majelis Syuro PKS: Sosok Patriotik

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Putri Presiden pertama Soekarno, Rachmawati Soekarnoputri, bersama Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera Salim Segaf al-Jufri dan Wakil Ketua Majelis Syuro Sohibul Iman. Dok: PKS

    Putri Presiden pertama Soekarno, Rachmawati Soekarnoputri, bersama Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera Salim Segaf al-Jufri dan Wakil Ketua Majelis Syuro Sohibul Iman. Dok: PKS

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera Salim Segaf al Jufri menyampaikan duka cita atas meninggalnya Rachmawati Soekarnoputri.

    “Bu Rachmawati adalah sosok yang patriotik, yang konsisten berjuang bagi keutuhan NKRI. Kita semua tentu kehilangan. Berita ini duka yang mendalam bagi bangsa Indonesia,” kata Salim dalam keterangannya, Sabtu, 3 Juli 2021.

    Salim mengatakan, bagi keluarga besar PKS, sosok putri Presiden pertama Soekarno itu memiliki kedekatan dengan partainya. Ia menyebut, pengurus PKS sering bersilaturahmi ke rumah Rachmawati. “Kami banyak diskusi terkait berbagai permasalahan bangsa,” katanya.

    Menurut Salim, banyak kesamaan pandangan antara PKS dan Rachmawati dalam menyikapi berbagai persoalan bangsa. Ia mengatakan mereka sepakat bahwa konsensus kehidupan berbangsa dan bernegera seperti Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

    “Sudah selesai. Tidak perlu diperdebatkan lagi. Saatnya kita bersatu merealisasikan konsensus nasional itu dalam kebijakan dan garis perjuangan,” ujarnya.

    Rachmawati Soekarnoputri meninggal pada Sabtu, 3 Juli 2021, pukul 06.45 WIB di RSPAD Gatot Subroto. Ia merupakan Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra yang lahir pada 27 September 1950 di Jakarta. Ia juga merupakan Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Bung Karno.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ini Daftar TNI-Polri yang Pernah Menjabat sebagai Plt Gubernur

    Penunjukan anggota TNI-Polri menjadi Plt Gubernur sudah sempat terjadi beberapa kali. Penunjukan itu diputuskan oleh Mendagri saat itu, Tjahjo Kumolo.