Luhut Ancam Cabut Izin Produsen Atau Distributor Obat yang Cari Untung Sendiri

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) Luhut Binsar Pandjaitan (tengah) saat meninjau proses latihan atlet pelatnas atletik di Stadion Madya, Senayan, Jakarta, Senin, 3 Mei 2021. Latihan tersebut dilakukan untuk melihat persiapan atlet lompat jauh Sapwaturrahman dan atlet lari Lalu Muhammad Zohri sebelum mengikuti ajang World Athletics Continental Tour Gold 2021 di Tokyo. ANTARA/Dhemas Reviyanto

    Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) Luhut Binsar Pandjaitan (tengah) saat meninjau proses latihan atlet pelatnas atletik di Stadion Madya, Senayan, Jakarta, Senin, 3 Mei 2021. Latihan tersebut dilakukan untuk melihat persiapan atlet lompat jauh Sapwaturrahman dan atlet lari Lalu Muhammad Zohri sebelum mengikuti ajang World Athletics Continental Tour Gold 2021 di Tokyo. ANTARA/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengancam akan mencabut izin para produsen atau distributor obat yang mempermainkan harga di tengah pandemi Covid-19 ini. Ia telah meminta Badan Reserse Kriminal Mabes Polri untuk ikut mengawasi dan menindak para pemain nakal tersebut.

    "Kalau orang meninggal gara-gara obat, gara-gara bikin obat gak benar, atau distributor main, saya mohon nanti Pak Agus (Kabareskrim) dengan Kejaksaan melakukan patroli, pengecekan. Penindakannya langsung diproses, izinnya kalau perlu kita cabut," kata Luhut dalam konferensi pers daring, Sabtu, 3 Juli 2021.

    Luhut mengatakan saat ini Indonesia tengah dilanda krisis besar. Angka kenaikan kasus Covid-19 dan jumlah kematiannya terus menanjak. Ia tak ingin tingginya harga obat semakin memperparah kondisi ini.

    Salah satu contohnya, adalah kenaikan harga obat Ivermectin hingga puluhan ribu. Padahal, harga aslinya tidak mencapai lebih dari Rp 10 ribu. Per kemarin, pemerintah lewat Kemenkes akhirnya telah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) bagi 11 obat yang sering digunakan selama masa pandemi ini.

    "Jadi tak boleh masasalah obat, masalah oksigen, masalah kesehatan, buat hoax, buat berita tak benar, kami akan tindak dengan jelas. Karena ini masalah kemanusian," kata Luhut.

    Terlebih, Luhut mengatakan Indonesia tengah memasuki masa kritis pandemi Covid-19. Rekor penambahan jumlah kasus harian kemarin, ia prediksi belum akan berhenti. Hal ini karena masalah inkubasi dari varian baru Covid-19 ini masih berjalan.

    "Kemarin tertinggi, 25 ribu kasus baru dan yang meninggal 539. Jadi angka ini terus naik. Dan ini 10 hari ke depan, menurut hemat saya mungkin 2 minggu, ini akan juga terus bisa naik," kata Luhut dalam konferensi pers daring, Sabtu, 3 Juli 2021.

    Kenaikan ini terjadi sejak sepekan terakhir. Hampir setiap harinya, angka penambahan kasus harian terus menembus rekor baru. Jumlah kasus meninggal juga terus di angka yang tinggi. Fasilitas kesehatan di banyak daerah juga dilaporkan banyak yang tak sanggup lagi menampung pasien.

    "Jadi jangan diganggu dengan kepentingan-kepentingan cari untung di tengah situasi begini. Saya kira Jenderal Agus orang yang tegas. Kalau mau coba-coba silahkan, tapi anda akan menyesal," kata Luhut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.