Panduan Lengkap Protokol Kesehatan Selama PPKM Darurat

Reporter:
Editor:

Iqbal Muhtarom

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Relawan membagikan masker kepada anak-anak di pemukiman padat di kawasan Pademangan, Jakarta, Jumat, 2 Juli 2021. Pembagian masker tersebut bertujuan untuk mengedukasi anak-anak di pemukiman padat ditengah tingginya angka pasien anak-anak yang terpapar COVID-19. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Relawan membagikan masker kepada anak-anak di pemukiman padat di kawasan Pademangan, Jakarta, Jumat, 2 Juli 2021. Pembagian masker tersebut bertujuan untuk mengedukasi anak-anak di pemukiman padat ditengah tingginya angka pasien anak-anak yang terpapar COVID-19. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta -Pemberlakuan PPKM Darurat resmi berlaku mulai hari ini, Sabtu 3 Juli 2021. PPKM Darurat akan diterapkan hingga 20 Juli 2021 mendatang. PPKM Darurat hanya berlaku di Jawa dan Bali.

    Pemerintah menerapkan sejumlah aturan yang cukup ketat, antara lain WFH 100 persen untuk sejumlah sektor yang non esensial, termasuk sekolah yang akan menerapkan pembelajaran online alias pembelajaran jarak jauh. 

    Demikian pula untuk perjalanan, salah satu syaratnya adalah menunjukkan kartu vaksin, minimal untuk dosis pertama. Sejumlah sanksi juga telah disiapkan di masing-masing daerah bagi yang melanggar PPKM darurat, seperti berkumpul dan berkerumun.     

    Selain menetapkan aturan dan ketentuan tentang pelaksanaan PPKM Darurat, terdapat panduan tentang pelaksanaan protokol kesehatan di masa pemberlakuan PPKM Darurat.

    Dalam dokumen panduan yang dirilis oleh Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi, disebutkan bahwa COVID-19 paling menular pada kondisi:

    Ruangan tertutup, Pertemuan panjang lebih dari 15 menit, interaksi jarak dekat, keramaian, aktivitas dengan bernapas kuat seperti bernyanyi, berbicara, tertawa, dan tidak memakai masker seperti saat makan bersama.

    Oleh karena itu, untuk mencegah penularan COVID-19, kita dapat menghindari atau mengantisipasi situasi seperti disebutkan di atas dengan berbagai lapisan protokol kesehatan.

    1. Penggunaan masker dengan benar dan konsisten adalah protokol kesehatan paling minimal yang perlu diterapkan semua orang.

    2. Mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer haruslah kita lakukan berulang kali terutama setelah menyentuh benda yang disentuh orang lain (seperti gagang pintu atau pegangan tangga). Menyentuh daerah wajah dengan tangan perlu dihindari.

    3. Jenis masker yang lebih baik, akan lebih melindungi kita juga. Misal, masker bedah sekali pakai lebih baik dari pada masker kain, dan masker N95 lebih baik dari masker bedah. Saat ini, penggunaan masker sekali pakai sebanyak dua lapis merupakan pilihan yang baik. Masker sebaiknya perlu diganti setelah digunakan lebih dari 4 jam.

    4. Protokol kesehatan juga dilakukan dengan mempertimbangkan faktor ventilasi udara, durasi, dan jarak interaksi, untuk meminimalisir risiko penularan dalam beraktivitas.

    5. Pertimbangan jarak dapat diterapkan sebagai berikut:
    a. Beraktivitas dari rumah saja, dan berinteraksi hanya dengan orang-orang yang tinggal serumah adalah pilihan paling aman.
    b. Jika harus meninggalkan rumah, maka harus selalu mengupayakan jarak minimal 2 meter dalam berinteraksi dengan orang lain. Mengurangi kontak dengan orang lain yang tidak tinggal serumah adalah pilihan yang lebih baik.
    c. Berbagai petunjuk visual di tempat umum dapat membantu untuk menjaga jarak.

    6. Pertimbangan durasi dapat diterapkan sebagai berikut:
    a. Jika harus berinteraksi dengan orang lain atau menghadiri suatu kegiatan, maka durasi yang lebih singkat adalah lebih baik untuk mengurangi risiko penularan.
    b. Dalam perkantoran dan situasi berkegiatan lainnya, penjadwalan dan rotasi dapat membantu untuk mengurangi durasi interaksi.

    7. Pertimbangan ventilasi dapat diterapkan sebagai berikut:
    a. Berkegiatan di luar ruangan memiliki risiko penularan yang jauh lebih rendah dibandingkan di dalam ruangan.
    b. Ruangan harus selalu diupayakan untuk memiliki ventilasi udara yang baik. Membuka pintu, jendela dapat dilakukan untuk mengurangi risiko penularan. Dalam kondisi pintu atau jendela tidak dapat dibuka, maka air purifier dengan HEPA filter dapat digunakan di dalam ruangan.

    8. Dalam kondisi penularan sudah meluas di komunitas, maka intervensi yang lebih ketat dengan membatasi mobilitas masyarakat secara signifikan perlu dilakukan.

    9. Penguatan 3T (Testing, Tracing, Treatment)

    Testing perlu terus ditingkatkan sampai positivity rate kurang dari 10%. Testing perlu terus ditingkatkan untuk suspek, yaitu mereka yang bergejala, dan juga pada kontak erat. Target orang di-test per hari untuk setiap provinsi

    Tracing perlu dilakukan sampai mencapai lebih dari 15 kontak erat per kasus konfirmasi.

    Karantina perlu dilakukan pada yang diidentifikasi sebagai kontak erat. Setelah diidentifikasi kontak erat harus segera diperiksa (entry-test) dan karantina perlu dijalankan. Jika hasil pemeriksaan positif maka perlu dilakukan isolasi.

    Jika hasil pemeriksaan negatif maka perlu dilanjutkan karantina. Pada hari ke-5 karantina, perlu dilakukan pemeriksaan kembali (exit-test) untuk melihat apakah virus terdeteksi setelah/selama masa inkubasi. Jika negatif, maka pasien dianggap selesai karantina.

    Treatment perlu dilakukan dengan komprehensif sesuai dengan berat gejala. Hanya pasien bergejala sedang, berat, dan kritis yang perlu dirawat di rumah sakit. Isolasi perlu dilakukan dengan ketat untuk mencegah penularan.

    Seperti yang disampaikan Presiden Jokowi saat mengumumkan PPKM Darurat, warga masyarakat diminta disiplin dan mentaati protokol kesehatan agar pandemi Covid-19 bisa segera berakhir. 

    HENDRIK KHOIRUL MUHID

    Baca juga: PPKM Darurat, Kapolda Metro: Kalau Nekat Bersepeda, Saya Kandangkan Sepedanya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.