Kemenkes Atasi Kekurangan Nakes Covid-19 dengan Tambah Relawan

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Juru Bicara Vaksinasi dari Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi, Foto: Lukas - Biro Pers Sekretariat Presiden

    Juru Bicara Vaksinasi dari Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi, Foto: Lukas - Biro Pers Sekretariat Presiden

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan menambah perekrutan relawan demi mengatasi kekurangan tenaga kesehatan untuk menangani Covid-19. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmidzi mengatakan, selain dilakukan Kemenkes perekrutan juga dilakukan oleh pemerintah daerah.

    "Kekurangan SDM diatasi dengan menambah relawan," kata Nadia ketika dihubungi, Kamis, 1 Juli 2021.

    Nadia mengatakan relawan dokter umum dan perawat akan diambil dari lulusan-lulusan baru pendidikan kedokteran dan keperawatan. Adapun untuk tenaga surveilans, relawan akan direkrut dari lulusan pendidikan kesehatan masyarakat.

    "Tergantung kebutuhan ya, apakah perawat, dokter umum, atau petugas surveilans," ujar Nadia.

    Sejumlah daerah melaporkan kekurangan tenaga kesehatan untuk menangani pasien Covid-19. Sekretaris Daerah Istimewa Yogyakarta, Kadarmanta Baskara Aji, mengaku mendapat laporan 27 rumah sakit rujukan Covid-19 mulai banyak kekurangan sumber daya tenaga kesehatan lantaran para nakes turut terpapar Covid-19.

    Pengurus Besar Persatuan Ikatan Dokter Indonesia juga mencatat ada 26 dokter yang meninggal sepanjang Juni 2021. IDI pun meminta agar para tenaga kesehatan disuntik vaksin dosis ketiga. Wakil Ketua Umum PB IDI Slamet Budiarto mengatakan booster ini demi melindungi keselamatan para nakes sebagai garda terdepan penanganan Covid-19.

    Sebab kata Slamet, ada puluhan dokter yang meninggal kendati telah mendapatkan vaksinasi Covid-19. Vaksinasi nakes dilakukan pada gelombang pertama Januari-Februari lalu dengan vaksin Sinovac.

    "Ini sebagian besar dokter yang meninggal sudah divaksin dua kali, artinya ini terkait efikasi vaksin," kata Slamet dalam diskusi virtual, Selasa, 29 Juni 2021.

    Ihwal efikasi Sinovac, Nadia mengatakan Kemenkes belum memegang data dari para peneliti. Adapun mengenai vaksin dosis ketiga, ia berujar Kemenkes saat ini masih menunggu publikasi atau kajian ilmiah serta rekomendasi dari Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI).

    "Terkait dosis ketiga kami masih menunggu publikasi ataupun kajian ilmiahnya, serta rekomendasi dari ITAGI maupun organisasi profesi," kata Nadia.

    BUDIARTI UTAMI PUTRI

    Baca: Rekor Baru, Kasus Covid-19 per 1 Juli 2021: Positif Tambah 24.836, Meninggal 504


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.