PPKM Darurat, Menkes: Testing Dinaikkan 4 Kali Lipat dan Perbarui Sistem Tracing

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat mengikuti rapat dengan Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 8 April 2021. Rapat tersebut membahas strategi vaksinasi Covid-19 dalam mencapai herd immunity di Indonesia, penjelasan terkait ketersediaan vaksin Covid-19 untuk vaksinasi program Pemerintah, penjelasan terkait kesiapan penyediaan vaksin Covid-19 untuk vaksinasi gotong royong beserta regulasinya. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat mengikuti rapat dengan Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 8 April 2021. Rapat tersebut membahas strategi vaksinasi Covid-19 dalam mencapai herd immunity di Indonesia, penjelasan terkait ketersediaan vaksin Covid-19 untuk vaksinasi program Pemerintah, penjelasan terkait kesiapan penyediaan vaksin Covid-19 untuk vaksinasi gotong royong beserta regulasinya. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah akan meningkatkan kapasitas testing Covid-19 selama masa Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM Darurat, pada 3 Juli hingga 20 Juli 2021 di Wilayah Pulau Jawa dan Bali. Langkah ini diambil karena angka positivity rate Covid-19 di Indonesia telah semakin tinggi.

    "Kita akan meningkatkan testing tracing kita sampai 3 sampai 4 kali lipat dari sekarang. Kita bisa harapkan dari 100 ribuan (jumlah testing) sekarang, kita bisa tingkatkan menjadi 400-500 ribu testing per hari," kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dalam konferensi pers daring, Kamis, 1 Juli 2021.

    Budi mengatakan Kemenkes tetap menggunakan panduan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dalam menerapkan jumlah testing yang diperlukan. Bila positivity rate di bawah 5, makan testing yang harus dilakukan adalah 1/1000/minggu. Sedangkan jika 5-15 persen 5/1000/minggu, dan terus hingga di atas 25 persen.

    Saat ini, Budi mengatakan banyak daerah di Indonesia yang positivity rate kasusnya sudah lebih dari 15 persen. Selain itu, prioritas testing juga akan diperbaiki. Test yang akan dilakukan adalah untuk testing epidemiologis, bukan untuk testing skrining.

    "Jadi benar-benar kita tes suspek dan kontak eratnya. Bukan yang skrining dia mau muask ke mana, jalan ke mana. Tapi benar-benar untuk testing epidemiologis. karena ini yang dibayar oleh negara," kata Budi.

    Pengawasan terhadap kontak erat juga akan diperketat dengan mewajibkan mereka karantina supaya tidak berpotensi menularkan virus.

    Kebijakan ini telah disampaikan pada 124 daerah yang akan melaksanakan PPKM Darurat. Nantinya, Budi mengatakan tiap daerah itu akan memiliki target testing per hari yang harus dikejar.

    "Bisa lewat rapid antigen, kalau swab PCR-nya lama, atau lewat PCR tapi targetnya kita hasil testing harus bisa keluar dalam waktu 24 jam. Jadi PCR tak kelaur dalam 24 jam kita pakai rapid antigen," kata Budi.

    Baca: Rekor Baru, Kasus Covid-19 per 1 Juli 2021: Positif Tambah 24.836, Meninggal 504


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.