RKUHP Muat Ancaman Pidana Pengibar Bendera Merah Putih Kusam

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah warga mengikuti kirab Bendera Merah Putih Hari Kesaktian Pancasila di Krakitan, Bayat, Klaten, Jawa Tengah, Kamis 1 Oktober 2020. Selain untuk memperingati Hari Kesaktian Pancasila, kegiatan kirab dan upacara Bendera Merah Putih yang dilakukan oleh warga setempat tersebut untuk menjaga kebersamaan gotong royong menjaga nilai-nilai Pancasila. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho

    Sejumlah warga mengikuti kirab Bendera Merah Putih Hari Kesaktian Pancasila di Krakitan, Bayat, Klaten, Jawa Tengah, Kamis 1 Oktober 2020. Selain untuk memperingati Hari Kesaktian Pancasila, kegiatan kirab dan upacara Bendera Merah Putih yang dilakukan oleh warga setempat tersebut untuk menjaga kebersamaan gotong royong menjaga nilai-nilai Pancasila. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho

    TEMPO.CO, Jakarta - Pakar hukum pidana Universitas Al-Azhar Suparji Ahmad meminta pasal pidana untuk pengibar bendera Merah Putih kusam dicabut dari Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKHUP).

    "Saya kira lebih baik pasal tersebut dicabut saja, karena berbahaya bagi rakyat kecil dan tidak ada urgensinya. Masyarakat yang tidak mampu membeli bendera lalu mengibarkan benderanya yang sudah kusam karena nasionalisme apa mau dipidana," kata Suparji dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu, 30 Juni 2021.

    Suparji menegaskan Pasal 235 RKUHP yang berisi larangan pengibaran bendera Merah Putih kusam sebaiknya tidak dimasukkan ke dalam KUHP. "Larangan tersebut kontraproduktif," ujarnya.

    Pasal 235 RKUHP menyebutkan dipidana dengan pidana denda paling banyak kategori II bagi setiap orang yang; (a) memakai bendera negara untuk reklame atau iklan komersial; (b) mengibarkan bendera negara yang rusak, robek, luntur, kusut, atau kusam; (c) mencetak, menyulam, dan menulis huruf, angka, gambar atau tanda lain atau memasang lencana atau benda apapun pada bendera negara; atau (d) memakai bendera negara untuk langit-langit, atap, pembungkus barang, dan tutup barang yang dapat menurunkan kehormatan bendera negara.

    Suparji menegaskan bahwa pengibar bendera merah putih kusam bukan berarti tak punya jiwa nasionalisme. Bisa jadi mereka sangat nasionalis di tengah keterbatasan yang ada.

    "Karena dengan keterbatasan yang ada, mereka masih tetap mengobarkan kecintaan mereka terhadap NKRI. Jadi soal bagaimana kondisi bendera tersebut dikibarkan, tak perlu jadi soal," tegas Suparji.

    Suparji menekankan, larangan cukup pada lingkup pembakaran, perobekan atau tindakan yang memang niatnya untuk merendahkan bendera Merah Putih. Kalau mengibarkan bendera kusam menurut dia bukan penodaan.

    "Jadi pasal 234 RKUHP sudah cukup dan pasal 235 lebih baik ditinjau kembali karena bisa terjadi multitafsir. Misalnya soal kusam, kategori kusam ini subjektif sekali karena tidak ada ukuran pasti soal 'kusam'," kata Suparji.

    Suparji berpesan kepada para pemangku kebijakan agar membuat aturan yang memang diperlukan dan mudah penegakannya. Jangan sampai aturan yang ada malah memperberat masyarakat kecil.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.