Covid-19 Naik, Jokowi: Jangan Hanya Bicara Ekonomi, tapi Tidak Melihat Kesehatan

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi membuka gelaran tahunan Google for Indonesia (Google4ID), Rabu, 18 November 2020. Kredit: Youtube/Google Indonesia

    Presiden Jokowi membuka gelaran tahunan Google for Indonesia (Google4ID), Rabu, 18 November 2020. Kredit: Youtube/Google Indonesia

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi menekankan bahwa kunci pemulihan ekonomi adalah penyelesaian masalah Covid-19. Ekonomi tidak akan pulih jika pandemi tak bisa dikendalikan.

    "Semua harus waspada, jangan hanya berbicara ekonomi, ekonomi, ekonomi, tapi tidak melihat kesehatan. Jangan juga melihat kesehatan, kesehatan, tapi tak melihat ekonomi, dua-duanya harus beriringan," kata Jokowi di sela pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) VIII Kamar Dagang dan Industri (Kadin) di Kendari, Rabu, 30 Juni 2021.

    Data Satgas Covid-19 menunjukkan jumlah kasus mingguan pekan ini sudah mencapai 125.396 kasus, jauh lebih tinggi dari puncak pertama kasus Covid-19 yang terjadi pada Januari 2021 dengan jumlah kasus mingguan 89.902 kasus. Satgas menyebut angka ini menandakan terjadinya gelombang kedua Covid-19 di Indonesia.

    Pada puncak kedua ini, kenaikan dari titik kasus terendah mencapai 381 persen atau hampir lima kali lipatnya dan mencapai puncak dalam waktu enam minggu. Padahal, Indonesia sempat mengalami penurunan kasus sejak puncak pertama yaitu selama 15 minggu dengan total penurunan hingga 244 persen.

    Kenaikan mulai terjadi satu minggu pasca periode libur lebaran, sejak pekan keempat pasca periode libur, kenaikan meningkat tajam dan berlangsung selama tiga minggu hingga mencapai puncak
    kedua di pekan terakhir Juni ini.

    Jokowi menyebut, kenaikan ini tidak lain terjadi karena tingginya mobilitas masyarakat saat libur Lebaran lalu. "Ini efek libur Lebaran kemarin, plus varian baru. Hari ini kita naik, (kasus aktif) melompat dua kali lipat lebih menjadi 228 ribu," ujarnya.

    Kepala negara menyebut, angka-angka ini yang terus ia pantau setiap hari. Termasuk juga perkembangan jumlah keterisian tempat tidur atau bed occupancy ratio (BOR) nasional. BOR di Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet selalu menjadi patokan Jokowi.

    "Biasanya yang saya pakai jadi patokan itu Wisma Atlet. Tiap jam 10 atau jam 12 malam, saya tanya ke sana. Saya selalu telepon Dokter Tugas (Mayjen TNI Tugas Ratmono, Koordinator RSDC) mengenai keterisian bed di Wisma Atlet. Pernah September (2020) itu 92 persen, saya betul-betul sudah gemetar dan grogi betul," ujarnya.

    Namun, lanjut Jokowi, ia mengapresiasi semua pihak karena BOR di rumah sakit berhasil diturunkan, bahkan di medio Mei mencapai 15 persen. "Dari 92 sudah turun jadi 15 persen. Sudah seneng sekali kita saat itu. Tetapi begitu ada liburan, hari ini saya harus ngomong apa adanya, (naik lagi) 90 persen," ujar Jokowi.

    DEWI NURITA

    Baca: Jokowi: PPKM Darurat Mau Tidak Mau Harus Dilakukan, Hanya di Jawa dan Bali


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pelonggaran Kembali PPKM: Aturan Baru WFO, Bioskop, dan Anak-anak

    Pemerintah kembali melonggarkan sejumlah aturan PPKM yang berlaku hingga 4 Oktober 2021. Pelonggaran termasuk WFO, bioskop, dan anak-anak di mall.