LaporCovid-19 Sebut Data Ketersediaan Kamar di Rumah Sakit Tidak Sinkron

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasien COVID-19 dirawat di tenda darurat di RSUD Kramat Jati, Jakarta, Jumat, 25 Juni 2021. Pemprov DKI menambah kapasitas Rumah Sakit COVID-19 yang semula sebanyak 103 menjadi 140 RS khusus COVID-19. Tenda darurat pun dipasang di halaman RSUD Kramat Jati dikarenakan melebihi kapasitas. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Pasien COVID-19 dirawat di tenda darurat di RSUD Kramat Jati, Jakarta, Jumat, 25 Juni 2021. Pemprov DKI menambah kapasitas Rumah Sakit COVID-19 yang semula sebanyak 103 menjadi 140 RS khusus COVID-19. Tenda darurat pun dipasang di halaman RSUD Kramat Jati dikarenakan melebihi kapasitas. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Relawan LaporCovid-19 Windy mengatakan informasi ketersediaan rumah sakit bagi pasien Covid-19 sangat krusial. Dari temuan mereka, banyak pasien yang kesulitan mencari kamar.

    Windy mengatakan saat membantu mencari RS bagi pasien, biasanya relawan menghubungi secara langsung sistem penanganan gawat darurat terpadu (SPGDT) RS atau mengontak Dinas Kesehatan. Selain itu beberapa upaya pencarian juga merujuk pada ketersediaan kamar situs Sistem Informasi Rawat Inap (Siranap) Kemenkes.

    "Sayangnya sering terjadi perbedaan data di mana tertulis tersedia di Siranap, namun pada kenyataannya tidak tersedia," kata Windy dalam keterangan tertulis, Sabtu, 26 Juni 2021.

    Padahal, ia mengatakan saat ini informasi ini sangat krusial. Dari temuan LaporCovid-19, sejak 14-25 Juni 2021, setidaknya ada 43 laporan warga untuk permintaan Rumah Sakit. Hasilnya, hampir seluruh Rumah Sakit yang kami hubungi menunjukkan bahwa ruang ICU (Intensive Care Unit), isolasi, dan IGD sudah terisi penuh. "Bahkan tiga pasien meninggal karena karena tidak mendapatkan ruang ICU," kata Windy.

    Dari 43 laporan, 15 di antaranya, kata Windy, mengalami kondisi gawat. Mereka memerlukan pertolongan sesegera mungkin. Kondisi pasien pada umumnya dengan saturasi oksigen rendah, demam tinggi, disertai mual.

    Sisanya mengalami gejala ringan hingga sedang yang memerlukan pemantauan Puskesmas setempat. "Namun sayang beberapa Puskesmas juga agak lambat merespon bantuan," kata dia.

    Dengan kondisi banyaknya warga yang membutuhkan rumah sakit, ia berharap pemerintah dapat membenahi sistem informasi yang ada. Windy menyebut mengatakan pemerintah harus memberikan data yang akurat. "Sehingga upaya perawatan dan penyelamatan pasien terwujud secara efektif dan efisien," kata dia.

    Baca juga: Kasus Covid-19 Meningkat, Sejumlah Rumah Sakit Butuh Tambahan Stok Oksigen Medis


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.