Polda Sumut Masih Dalami Kasus Penembakan Jurnalis Marasalem

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi penembakan. dentistry.co.uk

    Ilustrasi penembakan. dentistry.co.uk

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian Daerah Sumatera Utara masih terus mendalami kasus penembakan terhadap jurnalis Marasalem Harahap. Hingga kini kepolisian belum menemukan titik terang atas tewasnya Marasalem yang ditembak orang tak dikenal.

    "Kami masih menyelidiki semuanya. Nanti jika sudah ada update, kami sampaikan," ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Sumatera Utara Komisaris Besar Hadi Wahyudi saat dihubungi pada Senin, 21 Juni 2021.

    Marasalem Harahap dilaporkan tewas tidak jauh dari rumahnya, di Desa Karang Anyar, Kecamatan Gunung Maligas, Kabupaten Simalungun, pada Sabtu dini hari, 19 Juni 2021.

    Korban diduga tewas setelah ditembak orang tak dikenal saat berada di dalam mobilnya. Dari hasil pemeriksaan, polisi menemukan bekas luka tembak pada bagian kaki kiri jurnalis yang merupakan Pemimpin Redaksi LasserNewsToday.com itu.

    ADVERTISEMENT

    Kepolisian melalui tim Rumah Sakit Bhayangkara Medan mengotopsi jenazah Marasalem untuk memastikan penyebab kematian Marasalem. Sementara itu sejumlah anggota Polri dari Direktrorat Kriminal Umum Polda Sumatera Utara dan Polres melakukan penyelidikan dan olah tempat kejadian perkara (TKP).

    Adapun motif pembunuhan dengan penembakan itu, ujar Nainggolan juga sedang diselidiki polisi. "Belum bisa kami pastikan apakah terkait pemberitaan yang dilakukan oleh almarhum MH atau ada masalah di luar pemberitaan." ucap Kepala Sub Bidang Penerangan Masyarakat Polda Sumut Ajun Komisaris Besar MP Nainggolan pada 20 Juni 2021.

    Baca juga: Penembakan Jurnalis di Sumut, LPSK Janji Bakal Lindungi Saksi

    ANDITA RAHMA | SAHAT SIMATUPANG


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Klaim Landai Angka Kasus Harian Covid-19, Angka itu Mengelabui Kita

    Pemerintah klaim kasus harian Covid-19 mulai melandai. Lalu mengapa pendiri LaporCovid-19 mengatakan bahwa angka itu tak ada artinya?