Yogyakarta Bersiap Lockdown karena Covid-19? Begini Cara Lockdown di Turki

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Abdi dalem Keraton Yogyakarta membawa rengginang bagian dari uborampe Garebeg  saat upacara adat Garebeg Mulud 2020 di Keraton Yogyakarta, Kamis 29 Oktober 2020. Acara tahunan Garebeg Mulud tahun ini dilaksanakan secara sederhana  hanya diikuti pihak internal Keraton guna mengantisipasi penyebaran COVID-19. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

    Abdi dalem Keraton Yogyakarta membawa rengginang bagian dari uborampe Garebeg saat upacara adat Garebeg Mulud 2020 di Keraton Yogyakarta, Kamis 29 Oktober 2020. Acara tahunan Garebeg Mulud tahun ini dilaksanakan secara sederhana hanya diikuti pihak internal Keraton guna mengantisipasi penyebaran COVID-19. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Merujuk data keterisian ranjang perawatan Covid-19 di rumah sakit rujukan atau Bed Occupancy Ratio (BOR) ruang isolasi yang semakin tinggi saat ini, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X atau Sultan HB X mulai mempersiapkan lockdown. Hal ini merupakan kemungkinan terburuk menghadapi lonjakan penularan Covid-19.

    Sebelumnya Yogyakarta sudah menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM Mikro. “Bahkan dalam aturan itu juga semua hajatan dan kegiatan sosial kerumunan harus izin sampai kecamatan, tak cukup RT/RW saja, kalau ini masih juga tembus dan kasus tetap tinggi ya tidak ada cara lain,” ujarnya.

    Berdasarkan data kumulatif 17 Juni 2021, kasus corona di DIY secara mencapai 50.746 kasus. Sementara kasus sembuh mencapai 44.843 kasus dan meninggal sebanyak 1.330 kasus. Untuk kasus aktif mencapai 4.573 kasus. Ruang isolasi awalnya hanya terpakai 36 persen kini sudah melonjak 75 persen akibat lonjakan kasus yang nyaris menembus 600 kasus baru per hari pasca sebulan lebaran ini.

    Tidak hanya Yogyakarta yang berencana melakukan lockdown, sebelumnya negara-negara di Eropa juga melakukan hal serupa untuk kesekian kalinya setelah kasus Covid-19 semakin melonjak. Sebut saja Perancis yang melakukan lockdown kedua pada akhir Oktober 2020 lalu.

    Dengan adanya lockdown kedua tersebut, warga hanya boleh meninggalkan rumah untuk pergi bekerja, untuk membeli barang-barang penting, mencari bantuan medis, serta berolahraga selama satu jam dalam sehari. Jika terdapat warga yang keluar rumah, harus membawa pernyataan tertulis yang membenarkan tindakannya tersebut.

    Selain Prancis, negara Eropa yang juga menetapkan lockdown beberapa bulan ke belakang yaitu Turki. Hal ini dilakukan Presiden Erdogan untuk memangkas jumlah kasus penularan Covid-19. Tindakan ini dilakukan pemerintah Turki mulai 29 April hingga 17 Mei.

    Adapun tindakan yang dilakukan pemerintah Turki yaitu, semua perjalanan antarkota akan membutuhkan persetujuan resmi, sekolah ditutup dan memindahkan pelajaran secara online, serta membatasi jumlah penumpang di transportasi umum. Sedangkan masyarkat hanya bisa berkegiatan di dalam rumah kecuali, untuk belanja kebutuhan pokok dan perawatan medis yang mendesak. Sedangkan untuk pekerja layanan darurat dan karyawan di sektor makanan dan manufaktur akan dibebaskan.

    Lebih lanjut, selama bulan Ramadan lalu, Erdogan menerapkan peraturan lockdown parsial untuk dua pekan pertama bulan Ramadan. Salah satu elemen yang cukup menjadi perhatian dari lockdown parsial yaitu pemberlakuan jam malam. Jika sebelumnya jam malam berlaku pukul 21.00-05.00, setelah lockdown parsial jam malam ditetapkan mulai 19.00 hingga 05.00.

    Menyikapi kasus penularan Covid-19 yang semakin meningkat, Pemerintah Yogyakarta akan membahas opsi karantina wilayah bersama pengelola rumah sakit dan pemerintah kabupaten 21 juni mendatang. Selain itu, Sultan juga menginstruksikan pemerintah kabupaten untuk menyiapkan lokasi karantina yang bisa menampung hingga 3.000 orang, selain mengembangkan wacana lockdown total jika terus memburuk.

    GERIN RIO PRANATA

    Baca: Kasus Covid-19 di Yogya Kian Mengkhawatirkan, Sultan HB X: Lockdown


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Ganda Putri Indonesia Masuk Semifinal Olimpiade Pertama dalam Sejarah

    Pasangan ganda putri Greysia Polii dan Apriyani Rahayu, lolos ke semifinal badminton di Olimpiade 2020. Prestasi itu jadi tonggak olahraga Indonesia.